19
Jun
09

Welcome home..

Dikarenakan semakin kejamnya kesibukan, baru bisa ingat pswd nya..

sebagai pembuka, spt biasa..

- 17 Juni 09 -

- 17 Juni 09 -

 salam

#inad

09
Feb
09

Ngitung Traffic (edisi dua)

 

Sistem WCDMA

Kalau sebelumnya sudah dibahas sistem GSM, sekarang kita coba di sistem WCDMA. Nah yang ini agak-agak njlimet memang. Karena berbeda dengan GSM yang sudah jelas kapasitas per TRx nya. Di dalam WCDMA tidak ada yang seperti itu, dimana diantara kapasitas, cakupan, dan kecepatan harus ada trade off yang pas. Karena masing-masing saling mempengaruhi.

 

Untuk menghitung coverage, pada prinsipnya sama dengan GSM, kita harus menghitung link budget untuk mendapatkan MAPL (Maximum Allowable Path Loss), hanya perbedaan yang mendasar:

1.      Ada beberapa parameter tambahan di system WCDMA (cari sendiri ya, biar gak males.. hihihihi..)

2.      Hitung uplink dan downlink, terus bandingkan dari keduanya ambil radius yang terkecil dari keduanya.

Untuk coverage dan link budget, serta pemodelan propagasinya butuh bahasan tersendiri karena sangat banyak.

 

Supaya lebih mempermudah lihat contoh kasus berikut ini:

Contoh:

Berapa jumlah cell yang harus di bangun untuk memenuhi permintaan pasar:

-          50 Pelanggan dengan kecepatan 144 Kbps

-          100 Pelanggan dengan kecepatan 64 Kbps

Untuk mempermudah, kita ambil formula yang sudah jadi (dengan berbagai standart dan asumsi parameter yang biasa di gunakan):

 

Bearer service

Eb/No(dB)

No [ή=50%]

12,2 kbps

4,8

27,1

64 kbps

2,4

9,06

144 kbps

1,7

4,79

384 kbps

0,4

2,5

 

(Training Material, “Total Solutions of 3G UMTS and Transmission Network Design”, April 2006)

         

Dari data di atas didapatkan:

Jumlah pelanggan total = 50 + 100 = 150

Maksimum pelanggan per cell (dari table diatas)

·          No untuk 144kbps = 4,79 user /cell

·          No untuk 64kbps = 9,06 user /cell

·           

Complete load untuk total 150 pelanggan

            = (2/3*9,06) + (1/3*4,79)

            = 7,64 user / cell

 

1 Km2 150 user => 150/7,64 = 19,63 Cell per km2

Anggap 1 Node B terdiri dari 3 Cell, artinya dibutuhkan 19,63/3 = 6,54 Node B (dibulatkan menjadi 7 node B!) untuk memenuhi demand pasar diatas.

 

Contoh lain Kasus dimensioning (capacity)

 

Data:

·          Total Subscriber           100000

·          BH mE/subs (voice)      25 mErlang

·          BH mE/subs (CS64)      5 mErlang

Asumsi lain

·          Jumlah data yang ditransfer tiap user/jam rata-rata = 700 kbyte/jam

 

Data umum UMTS (source from Ericsson)

Data jumlah kanal maksimum (Mpole) untuk uplink

 

Dengan menggunakan persamaan di atas didapatkan data sebagai berikut (kalau tidak percaya silakan dihitung sendiri.. J):

 

RAB

Pedesterian A

Speech 12,2 kbps

95

CS 64 kbps

14

PS 128 kbps

11

 

Data jumlah kanal maksimum (Mpole) untuk downlink

Dengan rumus diatas didapatkan

 

RAB

Pedesterian A

Speech 12,2 kbps

110

CS 64 kbps

14

PS 128 kbps

11

 

Langkah-langkah dimensioningnya (untuk uplink dulu ini yah..):

1.      Buat inisialisasi loading factornya

η = η(voice)  + η(RT data) + η(NRT data)

note. RT = Real Time

 

Ambil untuk inisialisasi awal η = 0,4

η = (Mspeech/Mmax,speech) + (Mcs64/Mmax,cs64) = 0,4

Cari angka untuk memenuhi loading faktor 0,4 misalkan:

Kanal suara (voice) = 17 kanal

Kanal CS64 = 3 kanal

η = (17/95) + (3/14) = 0,4

 

2.      Hitung kapasitas uplink

Dari data awal diatas, anggap:

1.      Kanal suara = 17 kanal

2.      Kanal CS64 = 3 kanal

Hitung kapasitas uplink, lihat dari tabel Erlang

Asumsi GOS untuk voice 2% dan CS64 = video call = GOS 5%

erlang-wcdma

Dari tabel Erlang didapatkan

17 Kanal suara = 10,66 Erlang = 426 subscriber (@subscriber = 25 mErlang)

3 Kanal CS64 = 0.899 Erlang = 180 subscriber (@subscriber = 5 mErlang)

 

Misalkan dianggap 426 subscriber (voice) dan 180 subscriber (CS64) tidak seimbang, coba lagi sampai dirasakan seimbang antara voice dan CS64 nya.

Ambil 11 kanal suara dan 4 kanal CS64, didapatkan: 233 subscriber voice dan 305 subscriber untuk CS64.

 

3.      Hitung jumlah site yang diperlukan untuk memenuhi kapasitas Uplink

Asumsi 3 sektor/site, sehingga total jumlah sektor yang dibutuhkan adalah:

100000/233 = 429 sektor = 143 site.

 

4.      Hitung uplink coverage (MAPL)

Ini hitung sendiri ya, link budget dengan berbagai parameternya. (kalau sempat insya 4jJ1 saya bahas juga, plus tidak males.. hihihiih)

Nah dari perhitungan link budget, outputnya adalah MAPL (Maximum Allowable Path Loss), yaitu loss maksimum yang masih diijinkan oleh sistem.

 

5.      Hitung jumlah site yang dibutuhkan untuk memenuhi cakupan UL

Dari perhitungan no 4, masukkan ke dalam model propagasi yang sesuai. Ada berbagai pemodelan propagasi yang biasa di gunakan (tinggal disesuaikan dengan kondisi, ex frekuensi, urban atau rural, dsb).

Output dari pemodelan ini adalah jumlah site yang dibutuhkan..

Misalkan saja didapatkan nilai 52 sektor/18 site.

 

6.      Hitung iterasi selanjutnya jika dirasakan belum memuaskan (naikkan loading factor)

Dari step no (3) dan no (5) bandingkan, apakah seimbang atau nilainya njomplang. Kalau dianggap tidak seimbang, kita lakukan perhitungan ulang (iterasi) dari awal dengan cara “memainkan” factor loadingnya.

 

Misalkan kita naikkan loading faktor menjadi 60%, dengan cara yang sama seperti di atas didapatkan:

18 kanal suara = 11,5 E (dari tabel) = 460 subscriber voice (@subs = 25 mErlang)

6 kanal CS64 = 2,96 E (dari tabel) = 592 subscriber CS64 (@subs = 5 mErlang)

Kalau dianggap nilai diatas adalah seimbang, maka jumlah subscriber yang bisa didukung adalah 460 subscriber/sector.

 

Dimana jumlah sektor

100000/460 = 217 sektor = 73 site.

Note. Loading factor 60% dianggap maksimal untuk WCDMA (range antara 20% – 60%) dimana nilai yang direkomendasikan adalah 40%.

 

7.      Cek apakah volume data sesuai dengan kapasitas yang tersedia

ASUMSI Final:

18 kanal disediakan untuk voice

6 kanal disediakan untuk CS64

           

Beban server = (11,5/95) + (2,96/14) = 0,33

Maka, loading faktor yang tersedia untuk layanan lain (data) = 0,6 – 0,33 = 0,27

 

Mmax(128K) = 11

Beban sektor   = 11 x 0,27 x 128K x ( 3600/8 )

                        = 171 Mbyte / jam/sektor

 

Kalau jumlah subscriber = 500,

Demand aktual adalah 500 X 700 kbyte = 350 Mbyte/jam/sektor

 

Dari perhitungan diatas ternyata demand > beban yang mampu disediakan -> perlu penambahan site!

 

Lakukan hal yang sama untuk arah downlink, bagaimana Anda rekayasanya sehingga didapatkan hasil akhir yang balance antara uplink dan downlink.

 

Nah itulah sekilas, cara perhitungan traffik pada sistem WCDMA. Nilai-nilai paramater diatas hanya merupakan contoh, silakan dicoba sesuai dengan kondisi yang lebih real di masing-masing daerah.

 

Semoga membantu,

 

 

09
Feb
09

- Belajar Ngitung-ngitung Trafik -

- Belajar Ngitung-ngitung Trafik -

Edisi Satu

 

Di dalam dunia teknologi seluler, ada satu bahasan yang cukup menantang, yaitu dimensioning trafik! Dimana kita meramal jumlah pelanggan yang akan kita layani sampai beberapa tahun ke depan, sehingga bisa di rencanakan berapa jumlah Network Element yang harus dibangun oleh operator untuk melayani pelanggan tersebut. Memang tidak bisa “pas” seperti matematika, karena statistik yang dibicarakan disini. Oke, langsung aja kita coba bahas.

 

Artikel ini akan coba memberikan gambaran perhitungan traffik untuk sistem GSM dan WCDMA, dengan asumsi-asumsi yang biasa dipakai. Untuk saat ini saya tidak akan membahas terlebih dulu mengenai perhitungan Interface (Abis, Ater, IuPs atau IuCs dan sebagainya). Yang coba saya tekankan disini, baru sampai dimensioning RBS saja. (Semoga insya 4jJ1 next saya bisa bahas core network plus interface, karena saya juga mesti belajar dulu hihihihi..).

 

System GSM

Kita tahu bahwa GSM terdiri dari 8 time slot yang bisa diduduki oleh pelanggan. Misalnya ada satu BTS dengan konfigurasi 2/2/2 (3 sektor dengan masing-masing sektor terdiri dari 2 TRX =16 timeslot). Sehari-hari kita tidak hanya melakukan telepon, tapi juga SMS, artinya kita tidak hanya butuh kanal suara (TCH) namun juga butuh kanal signalling untuk mengakomodir SMS (menggunakan kanal SDCCH).

 

Typical value untuk tiap pelanggan yang dipakai dalam planning jaringan adalah:

TCH load          = 25 mErlang

SDCCH load     = 4 mErlang

 

Anggap kita sudah selesai melakukan evaluasi dan didapat hasilnya 14 timeslot dipakai untuk traffic dan 2 timeslot untuk signalling. Langkah berikutnya yang harus kita lakukan adalah melihat Tabel Erlang yang sudah disebut diatas.

 

erlang-gsm1

 

Dari tabel Erlang tersebut kita lihat untuk jumlah kanal traffic sebanyak 14 dapat menghandle 8,2 Erlang untuk bisa mencapai GOS 2%.

 

Yang menjadi pertimbangan adalah, dalam desain kita banyak menggunakan asumsi-asumsi (syarat dan ketentuan berlaku), sebut saja pemodelan propagasi, link budget, kita menggunakan asumsi yang tentu masih bisa ditoleransi. Namun sebagai engineer kita tidak boleh “kaku”, artinya harus disesuaikan dulu dengan kondisi environment nya. Apalagi kalau kita perhatikan semua perhitungan dan asumsi yang digunakan diambil dari penelitian yang dilakukan diluar yang tentu kondisinya berbeda dengan daerah kita masing-masing. Memang perlu sedikit “dimodifikasi” kalau kita benar-benar ingin mendesain dengan baik. Hal ini sangat berdampak terhadap network, dan perlu diperhatikan ketika teman-teman mendesain (network planning).

 

Ambil contoh traffic pelanggan biasanya kita menggunakan = 25 mErlang. Tapi dengan kondisi seperti sekarang mungkin kita perlu membuat nilai yang lebih “realistis”.

 

Misal Operator BuTel (Bumi Telekomunikasi.inc) mempunyai produk sebagai berikut

Produk

Jumlah User

Holding Time

Call Attempt

Load Traffic

A

80

40 menit

1

53,33

B

20

3 menit

4

4

Total

100

43

5

57,33

Note. (Load traffic silakan cari sendiri darimana nilainya)

 

Dari tabel diatas didapat rata-rata traffic untuk masing-masing pelanggan adalah:

0,57 Erlang! (bandingkan dengan typical value yang biasa kita gunakan antara 25-35 mErlang). Artinya kalau kita mendesain masih dengan data yang lama, sementara pola pikir pelanggan sudah berubah, Network akan mengalami Overload.

 

Yang ujungnya adalah susah call, drop call, hingga Network Down, impactnya tentunya pelanggan tidak puas, pergi, dan (Operator BuTel tidak jadi didirikan.. hihihihi)

 

Next. Ngitung traffik system WCDMA

 

02
Feb
09

Bumi 4 Kg!!

Dikarenakan hancurnya baterai laptop saya, jd biar gambar yang berbicara..

Kompilasi Bumi

Kompilasi Bumi

Have a nice day..

inad#pkp

30
Jan
09

.: Elang :.

Puisi untuk elang

sangkar megah tak akan menggantikan
pepohonan hijau yang tersebar
daging bakar tak akan menjanjikan
dibanding tikus dan kelinci liar

kalau elang itu terbang di angkasa
jangan disambut dengan tembakan
kalau elang itu memburu mangsanya
jangan kalian selimuti jebakan
hanya demi beberapa lembar uang

biarkan elang itu tetap menjadi elang,
jangan biarkan elang itu seperti merpati

Looking for freedom!

Looking for freedom!

Bumi mikir

inspired by Metro TV

 

22
Jan
09

K.O

21-Januari-2009

Akhirnya saya tumbang juga..

13
Jan
09

Cognitive Radio

Iseng buka2 folder lama, daripada jadi sampah, barangkali ada yang mau lanjutin buat riset atau TA dsb..

Idenya cognitive radio ini sebenernya untuk mengatur resource (frekuensi) seefisien mungkin ditengah semaraknya bermacam-macam teknologi wireless. Ini ada beberapa catatan fundamental yang mungkin bisa memberikan gambaran. Kalau tertarik silakan browsing di internet, atau bisa menghubungi saya, karena ada beberapa referensi bagus yang saya punya.

 

Important Note:

  1. CR simplified view
    1. Cognitive radio adapt to spectrum environment
    2. SDR adapt to network environment 
  2. What is Cognitive Radio
    1. Tune to any available channel in the target band
    2. Establish network communications and operate in all or part of the channel
    3. Implement channel sharing and power control protocols which adapt to spectrum occupied by multiple heterogeneous network
    4. Implement adaptive transmission bandwidth, data rate, and error correction schemes to obtain the best throughput possible
    5. Implement adaptive antenna steering to focus transmitter power in the direction required to optimized received signal strength
  3. Two protocols have emerged as early cognitive radio behavior
    1. Dynamic Frequency Selection

                                                              i.      Originally used to describe a technique to avoid radar signal by 802.11a networks which operate in the 5GHz U-NII band

                                                             ii.      Now generalized to refer to an automatic frequency selection process intended to achieve some specific objective (like avoiding harmful interference to a radio system with a higher regulatory priority)

           b.  Transmit Power Control

                                                              i.      Originally a mechanism for 802.11a network to lower aggregate transmit power by 3dB from the maximum regulatory limit to protect ESSS (Earth Exploration Satellite System) operations

                                                             ii.      Now generalized to a mechanism that adaptively sets transmitter power based on the spectrum or regulatory environment 

   4. Another key cognitive radio behavior is incumbent profile detection (IPD)

  1. IPD is the ability to detect an incumbent user (one with regulatory priority) based on a specific spectrum signature
  2. DFS requires an IPD protocol identify unoccupied, or lightly used frequencies
  3. IPD includes detection schemes focused on the characteristics of the specific incumbents in the band, or bands, that the cognitive radio is designed to support
  4. IPD eliminates the need for geo location techniques (GPS, etc) to determine the location of the radio and, using a database, identify unused channels

Reference:

Cognitive Radio Emerges from Obscurity”, John Notor, January 23, 2004

12
Jan
09

Femtocell

Femtocell atau Home Node B adalah ….

(ntar dilanjut, skr baru searching bahan..)

12
Jan
09

gak enak badan

12 Januari 09 – sore”.

Agak gak enak badan. mood jadi gak bagus.

Bumi lg tidur

Bumi lg tidur

Tadi siang ke kantor catatan sipil (pas udah seminggu), ternyata Akte Bumi belum juga ada, katanya (mungkin) minggu depan…

dari dulu sampe sekarang ngurus yang kaya ginian kok teteup susah ya??

08
Jan
09

Review Week 1 (20 Desember 2008 – 27 Desember 2008)

Review Week 1 (20 Desember 2008 – 27 Desember 2008)

 20 Desember 2008

Finally, di sebuah klinik yang berada di hampir perbatasan kota pangkal pinang, sekitar pukul 21.50, terdengar suara melodi tangisan yang seketika membuat saya bernafas lega. 

 

Kedinginan

Kedinginan

Alhamdulillah, dengan tergopoh-gopoh suster menggendong seorang bayi mungil yang setelah di ukur memiliki berat 3 kg dengan panjang 44 cm. Sekitaran pukul 22.00 Wib kubisikkan adzan dan iqomah di telinga kanan dan kirinya. Wajahnya yang bersih, semakin terlihat tenang ketika kudoakan dan diakhiri dengan kecupan di keningnya.

 

Robbi Habli Minas Sholihin Ya Allah..

(Karuniakan kami Anak yang Sholeh Ya Allah..)

 

 

 21 Desember 2008

 

Merem or Melek??

Merem or Melek??

Dinihari, di kamar nomer 2, aku melihat dia (cayo ya bunda..) masih tergolek lemah di kasur. Sementara bayi yang belum bernama ini masih tidur dengan lelapnya. Terkadang di selingi dengan tangisan, entah ketika dia haus atau lapar, atau juga ketika buang air kecil. Hari pertama ini suster dan perawat masih menjadi andalan untuk mengganti popok dan segala propertiesnya.

 

 

 

22 Desember 2008

Alhamdulillah, air susu bunda udah mulai keluar, jadi Bumi tidak perlu lagi minum susu formula (bukan Formalin). Masih dengan mata yang tinggal 5 watt, kami mulai hari-hari baru yang sudah sangat dinantikan. Lelah memah, tapi seketika musnah ketika melihat bayi yang namanya masih terus di diskusikan. Pagi itu pulang, kuambil laptop untuk menemani hari-hari begadang di klinik. Dari browsing kesana kemari, ada 3 kandidat kuat yang difavoritkan sebagai nama:

1.        Bumi Akmal Abdillah

2.       Narayan Bumi Jauhar

3.       Bumi Jauhar Khawarizmi

Masih keukeuh dengan bumi, dasar keras kepala (heheheh)… J

 23 Desember 2008

Motor Mio pinjaman, plus helm pinjaman, dan kacamata sitaan (gak modal amat yak…), menemani perjalanan rumah ke klinik. Bersiap menyodorkan list kandidat nama kepada konsultan (yang tak lain tak bukan adalah kakek nenek si bayi mungil). Setelah sarapan nasi rawon, kembali ke rumah sakit dengan membawa keputusan hampir “final” tentang nama si bayi. Bumi Jauhar Khawarizmi yang artinya Permata Ilmu Pengetahuan (please jangan diartikan harfiah, ntar si bunda nya marah kekeke..).

 

24 Desember 2008

 

Bumi sama nenek

Bumi sama nenek

Bersiap menjemput ibu (nenek si bayi) dengan mobil (yang lagi-lagi pinjaman), untuk persiapan membawa bumi dan sang bunda pulang ke rumah yang sebenarnya. Mau nyelesaikan masalah administrasi dulu, tapi sang dokter masih sarapan jadi musti menunggu. Bisa dimaklumi, kalo dokter yang sarapan kan musti di kecap berkali-kali sebelum makanan masuk ke dalam kerongkongan, jadi wajar kalau satu jam berlalu tapi pak dokter belum juga nongol. Akhirnya setelah keringat mulai turun karena gak sabar, perawat di request untuk menyampaikan ke dokter. Tak berapa lama pak dokter turun, dengan agak tergesa-gesa, menghitung beberapa lembar uang dan menulis kuitansi, selesai sudah urusan administrasi hari itu. Disambut gerimis kecil, kedatangan kami ke rumah di daerah black water (Air Itam) berlangsung aman dan terkendali.

 

 

 

Malamnya pergi ke dokter anak untuk melakukan imunisasi ke daerah Girimaya. Bumi hanya sedikit “menjerit” ketika jarum suntik masuk ke dalam tubuhnya. Setelah itu dilanjutkan lah mimpi Bumi (jangan niru om yang ada di Sarang Gembels ya nak)…

 

 

25 Desember

Bumi melek

Bumi melek

Hari libur nasional, yang jatuh di hari kamis, seperti biasa dilanjutkan cuti bersama besoknya, tentu sangat dinantikan para pekerja (

termasuk saya), walaupun kalau dipikir lagi kapan kerja nya kita kalau sedikit2 libur bersama. Masih belajar mencoba menjadi ayah yang baik, dengan merasakan mencuci popok, setrika dan sebagainya. Tapi sejauh ini kondisi masih terkendali, karena bunda masih sangat sigap dalam urusan mengganti popok, bedong dan sebagainya.  Si Bumi sudah mulai bisa membuka matanya lebih baik..

 

26 Desember 2008

Dengan sedikit pesimis karena sudah bisa ditebak (berbagai instansi pemerintahan pasti tutup juga pelayanannya), sebagai warga negara yang baik, bumi belum diakui kewarganegaraannya sebelum ada Akte Kelahiran. Yupe! Hari itu pagi setelah sarapan, langsung meluncur ke Kantor Capil yang letaknya tidak jauh dari kantor. Sudah bisa di tebak, kantor TUTUP, jadi target selanjutnya ke rumah Pak RT dulu (karena KTP masih tinggal di rumah kontrakan, repot mau urus2 surat pindah2an, maap ya pak RT yang baru). Lagi-lagi sedikit kurang beruntung, Pak RT yang diharapkan baru saja keluar, dan di suruh datang lagi abis jumatan. Masjid jamik menjadi sasaran tempat jumatan, langsung menuju Bakso Singo Edan sebagai menu makan siang, dan ke Rumah Pak RT. Nasib memang kurang berpihak, pak RT belum ada di rumah, dan setelah di telpon katanya di suruh langsung ke kelurahan. Tuing! Guyonan khas birokrasi pemerintah.. Di lempar kesana kemari, akhirnya lanjut ke kelurahan dan lagi-lagi TUTUP!!. Siang itu di tengah gerimis hujan, belum membuahkan hasil. Maaf Bumi, ayah akan berusaha lagi untuk mengurus akte kelahiran mu.. hehehehe..

 

27 Desember 2008

 

Sebagai penutup minggu ini, exclusive picture from Bumi..

Wuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..

Wuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..

 

 

Masih menikmati Long Weekend, liat si Bumi kalo lagi nangis.. Hehehehe.. matanya sampe tinggal segaris.

 

Minggu ini ditutup sampai segini dulu ya, nantikan edisi selanjutnya..