04
Agu
09

Setelah 3G, (mau) Apalagi?

Daripada ikutan ribut masalah absensi di kantor, sepertinya alangkah lebih bijak kalau energi nya disalurkan untuk berbagi sedikit ilmu. Langsung to the point aja, beberapa waktu yang lalu ada seorang teman yang bertanya tentang generasi keempat (next generation). Jujur saja agak gelagapan juga jawabnya, (bingung juga karena tidak bisa menjawab hiihihi), tetapi demi menjaga “kredibilitas” jadinya sedikit ngeles dengan senjata “bingung bagaimana meramu kalimat yang mak nyuss sehingga bisa mudah dicerna dan langsung mengena”. J

 Dari berbagai referensi baik berupa buku, majalah, dan jurnal (yang bisa di temukan di internet berjumlah ratusan bahkan ribuan -> dan ini lah yang sering tidak terbaca karena bahasa linggis saya sangat pas-pasan), ada beberapa point yang bisa saya rangkum (tentu dengan kapasitas kemampuan berpikir saya yang sangat minim).

 1. Open Wireless Architecture

Kalau yang bisa saya cerna, generasi keempat ini sedikit berbeda dengan migrasi generasi sebelumnya. Misalnya dari sistem AMPS (dengan FDMA sbg teknik multiple access, dan menggunakan metode FM untuk modulasi nya) ke GSM, atau dari GSM (TDMA dengan modulasi GMSK) ke WCDMA (yang menggunakan teknik multiple access CDMA).

Karena next generation lebih cenderung merupakan suatu system dimana berbagai macam teknologi bisa berjalan di system tersebut. Metode nya bisa bebas, dengan berbagai teknik multiple access dan modulasinya, tentu dengan catatan mampu memenuhi requirement yang sudah digariskan, sebut saja dari sisi kecepatan, kapasitas dan sebagainya (saya lupa baca dimana, tp sebagai referensi setahun yang lalu DoComo telah melakukan ujicoba dan didapatkan kecepatan sampai 250 Mbps). Artinya blm di rumuskan (setidaknya sampai tulisan ini dibuat), “spesifikasi” yang harus di pakai di generasi keempat ini. Kalau dari timeline si 3GPP tahun 2011 udah kelar dan siap saji.

Jadi unsur pertama yang harus dipenuhi dalam sistem generasi keempat ini adalah Open Wireless Architecture. Memang hanya terdiri dari 3 kata, tetapi imbas nya sangat luar biasa. Jadi selamat mengulik, masih banyak kok celah yang bisa dipelajari.

 

2.Shared Spectrum (cost eficiency)

Yang berikutnya adalah shared spectrum. Dari jaman kuliah beberapa waktu yang lalu (biar terlihat masih muda), kita tahu bahwa salah satu resource yang sangat mahal itu bernama spektrum frekuensi. Dan ketika saya sudah terjun di dunia industri, memang makhluk yang satu ini luar biasa mahal harganya. Coba saja untuk 5MHz licenced frekuensi 3G diharuskan membayar 160 Miliyar! Itu masih belum termasuk BHP dan tetek bengeknya. (saya tidak menjamin kevalidan data harganya, tapi itulah yang saya baca dimana-mana, mungkin ada yang bisa menambahkan? Silakan..).

Nah sementara kalau dikaitkan dengan teorema dari bapak teori informasi Mbah Shannon, kecepatan (kapasitas) itu berbanding lurus dengan BW. Jadi mau tidak mau untuk bisa memenuhi standar kecepatan (yang mimpinya) bisa sampe 2Gbps, ya harus dibutuhkan BW yang lebar. Kan logikanya seperti itu. Masalahnya kembali lagi ke cost, harus berapa besar harga yang dikeluarkan untuk menyewa lisensi frekuensi tersebut.

Jadi yang perlu diperhatikan, disamping OWA adalah, bagaimana caranya agar spectrum frekuensi bisa dipakai secara optimal, dengan pertimbangan yang saling menguntungkan baik dari sisi pemerintah (regulator) maupun penyelenggara (operator). Udah beberapa kajian dilakukan tentang metode sharing spectrum, tapi mungkin masih perlu dirumuskan lebih detail lagi. Jadi tugas pemerintah berat juga disini.

Selamat bekerja pak Regulator, semoga sukses…. J

 

3.Intelligence

Nah dari 2 hal diatas, imbasnya bisa ke berbagai segi, baik infrastruktur, teknologi radio, core, security dan sebagainya. Kesemuanya itu bisa diambil semacam benang merah, yaitu “intelligence”. Artinya kurang lebih adalah, di generasi keempat ini (hampir) semua komponen harus cukup pintar (dan mau belajar). Lebih jelasnya, akan saya berikan beberapa contoh sebagai berikut:

  • Smart Antenna

             Dengan ini antena mampu mengarahkan beam-nya ke pengguna yang membutuhkan, melalui berbagai skema feedback yang sudah di ublek-ublek oleh   para pejuang dunia seluler. J

  • Smart Card

             Nantinya SIM card yang selama ini “hanya” berfungsi dan berisi dengan identitas saja, diharapkan mampu berubah menjadi smart card. Jadi fungsi baseband processing tidak lagi dilakukan oleh handphone, tetapi sudah terintegrasi di SIM card. Ujung-ujungnya cukup satu terminal handphone saja untuk semua teknologi dan aplikasi.

  • SDR

             Software Define Radio, yaitu sistem radio yang mampu bekerja dan menyesuaikan diri di berbagai rentang frekuensi yang cukup luas. Cukup bermain-main di software saja. 

 Itu hanya sebagian contoh kecil, yang semoga memberikan gambaran tentang point ketiga yang saya sebutkan, yaitu Intelligence.

 

Dari uraian singkat diatas, dapat disimpulkan (hihhihi.. kaya pidato apa aja) bahwa masih banyak yang bisa di kupas di teknologi generasi ketiga, dan perbaikan sekecil apapun akan sangat berarti.

 Jadi selamat belajar, jangan segan untuk menghubungi saya kalau ada yang (sekiranya) perlu dibantu (do’a). J

 

salam

#dani


0 Tanggapan ke “Setelah 3G, (mau) Apalagi?”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan