Sebenarnya (harusnya) tulisan ini di posting pas baru nyampe Pangkal pinang, setelah kurang lebih 3 minggu mudik Lebaran. Nggak terlalu banyak oleh-olehnya, hanya sedikit potret perjalanan Bumi sebelum sampai sesudah mudik.
Sebelum berangkat, sudah cari referensi tempat kuliner dimana? (padahal baca buku e yo iku2 ae.. hihihi)

Membaca
itu salah satu buku favorit Bumi, judulnya “Kura-kura dan Kalajengking” (tp ketinggalan pas mudik, ntar kalo nemu di gramed dibeliin lagi deh..). Perjalanan dari Pangkal Pinang ke Jakarta sebenernya cm kurang dari satu jam, tp naik kereta (yang delay-nya naudzubillah..) dan segala tetek bengeknya itu yg lama.

Waiting in vain..
Pesawat dr Pangkal Pinang ke Jakarta sekitar jam 9 (lupa-lupa inget jam pastinya), Alhamdulillah gak terlalu nunggu lama di bandara kalau di pangkal pinang, lagian pesawatnya jg cari yang track record delay nya gak terlalu parah (gpp sedikit mahal yg penting Bumi bisa nyaman, ntar ayah macul lagi nak..). Sampai di bandara Jakarta, masih menjelang siang. Karena akan melanjutkan perjalanan dengan kereta api (jadwal maghrib) berangkat, jd sambil mengisi waktu luang kami singgah ke tempat saudara (om) Bunda Bumi. Nah perjalanan ke rumah ini yang sedikit membuat kepala nyut-nyut, karena informasi yang ada rumah deket dari gambir. Akhirnya setelah dengan bercucuran keringat di dalam kendaraan yang sangat merakyat di Jakarta (gpp ya Bumi, sekali2 ngerasain naik bajai), sampai juga di rumah Om.
Satu-satunya kesan jakarta waktu itu adalah, “Jakarta kota yang sangat-sangat PANAS!!”
Setelah sekian waktu berlalu (agak males cerita perjalanan naik kereta nya..), akhirnya sampailah kami di rumah Mbah Uti dan Mbah Kakung nya Bumi di Tegal. Benar-benar inget dengan kampus, penuh dengan sawah..

Bumi rambut pirang
Ada lumayan banyak sesi foto di sana, gak cukup kalau ditampilin semua.
makanya satu aja sample nya, ini juga foto yang digedein dan dipajang di pigura pas di rumah Malang.
“cepatlah besar matahari ku..
menangis yang keras janganlah ragu..
hantamlah congkaknya dunia buah hatiku..
do’a kami di nadimu..”
-iwan fals-
setelah sekitar seminggu lebih di Tegal, perjalanan berikutnya adalah Tanah Air sang Ayah Tercinta, Malang, kota yang sangat membanggakan dari segala sisi (sorry yo bunda, agak uber ales dikit wuekekekeke). Bumi akan saya “doktrin” menjadi anak malang.. hihihih
tp sesampai dimalang, dengan perbedaan cuaca yang sangat kacau balau, sepertinya Bumi belum siap menyesuaikan diri. dan yang terjadi akhirnya Bumi KO, liburan di Malang hanya diisi dengan gelempangan di kasur.. hufh.. don’t worry nak, lain kali kita ke malang dan having fun..

Flu berat

Pilek, batuk, demam
Bumi bener-bener rewel, KO..
makan susah, tidur susah, dan akhirnya dibawa ke rumah sakit. Inilah rekor bumi minum obat dari dokter, karena sebelumnya kami memang sebisa mungkin memberikan obat ke Bumi. Biarlah tubuhnya melawan sakit itu, dan sembuh dengan sendirinya. Tp rupanya serangan kali ini lumayan besar, akhirnya kami “kalah”…
perjuangan berikutnya tentu saja bagaimana cara memasukkan obat (puyer) yang diberikan oleh dokter, karena Bumi langsung muntah-muntah setiap abis minum obat. parahnya lagi makanan (yang nyuapinnya hampir sejam) jg ikutan keluar dari badannya..
sabar.. sabar…
Planning kuliner, jalan-jalan, yang sudah disiapkan sebelumnya Gagal Total! huahahahahaha..
Dibalik semua kejadian pasti ada hikmahnya..
Ada untungnya juga sebenernya, budget jd gak terlalu besar hihihiihi
Tp bagaimanapun juga, Bumi yang pencilakan, Bumi yang suka tertawa, Bumi yang ceria tidak akan bisa tergantikan oleh budget sebesar apapun.
Do’akan ayah yo nak..
setelah beberapa hari sudah mulai terlihat “reaksi” dari si puyer.
Ibarat pemain bola yang habis cedera, begitu juga Bumi, inilah foto-foto recovery…

Recovery 1
Bumi sudah mulai bisa tertawa, meskipun masih agak pilek dan batuk.. Thanks God..
Selain berkunjung ke saudara-saudara, agenda makan bakso jg tidak boleh terlewatkan. Disamping tentu saja pukis, yang tak bosan-bosan kami makan.
setelah seminggu lebih di Malang.. bukan liburan terbaik memang, tp setidaknya banyak pelajaran di sana. Setelah 10 hari kami putuskan untuk pulang, perjalannan dari Malang ke Pangkal Pinang juga tidak terlalu lama, Malang ke Jakarta (2 jam) connect, Jakarta – Pangkal Pinang (50 menit).
Jadi tidak lebih dari 3 jam perlajanan kami sudah nyampe di Pangkal Pinang..
plus makan, menunggu di airport dkk gak usah dimasukin deh.. hihihih

Bumi botak..
Dan akhirnya sampailah kami di Pangkal Pinang.. Setelah beres-beres rumah yang ky kapal pecah, kehidupan “normal” kami mulai lagi. Untuk memulai hidup baru ini ditandai dengan Bumi dibotakin.. hahahahaha…
Jadi aneh mukanya, bunder… hihihihi.. mau gak ya kalau sudah besar dia digundul lagi?? ..
Dan ini adalah foto update.. karena tidak kesampaian liburan pas mudik, liburannya di belakang rumah saja deh…

sekian dulu ya.. nanti disambung lagi
#inad












Komentar Terakhir