Arsip untuk Kategori 'Coretan Dinding'

30
Jan
09

.: Elang :.

Puisi untuk elang

sangkar megah tak akan menggantikan
pepohonan hijau yang tersebar
daging bakar tak akan menjanjikan
dibanding tikus dan kelinci liar

kalau elang itu terbang di angkasa
jangan disambut dengan tembakan
kalau elang itu memburu mangsanya
jangan kalian selimuti jebakan
hanya demi beberapa lembar uang

biarkan elang itu tetap menjadi elang,
jangan biarkan elang itu seperti merpati

Looking for freedom!

Looking for freedom!

Bumi mikir

inspired by Metro TV

 

29
Jan
08

Membangun Kembali Harapan

Sore sehabis pulang kerja, sambil menunggu keringat mengering, biasanya Kompas menjadi teman yang paling setia. Demikian juga hari ini, rasa capek belum hilang karena hari ini cukup lumayan banyak kerjaan. Jam di tangan menunjukkan setengah enam pas saya sudah tiba di kos, setelah meletakkan tas Samsonite dengan hati-hati karena berisi laptop, melemparkan dua handphone ke atas kasur, serta melepaskan pakaian putih kotak yang sudah basah oleh keringat, segera saya merebahkan diri di atas karpet. Setelah menenggak susu beruang, kompas kemudian diambil dari tas rangsel hitam itu. Sejujurnya hari ini malas sekali membaca, hanya membaca judul kemudian dibalik ke halaman berikutnya.
Sepertinya berita hari ini tidak jauh berbeda dengan kemarin-kemarin, soal beras, korupsi, bom bunuh diri Irak, nuklir Iran, atau kisruh  di Bangladesh, yang ‘update’ sepertinya hanya hasil pertandingan sepak bola dan tenis serta golf saja. Berita politik, sosial, ekonomi,  epertinya masih berkutat pada isu yang itu-itu saja, kadang saya sendiri bertanya kapan seh kita bosan dengan tema kelaparan, harga yang melambung tinggi, korupsi, bencana, dan kawan-kawannya. Tidakkah kita rindu dengan berita yang sedikit menggembirakan, ah serasa naif kalau saya sebutkan contohnya, nanti yang ada malah ditegur pak menteri: “..jangan berlebihan..”, bisa tambah ruwet pikiran.

Setelah membolak-balik, tiba pada kolom yang paling saya sukai yaitu kolom opini. Entah kenapa saya sangat suka kolom tersebut,  mungkin disitu banyak hal baru yang mungkin selama ini tak terlintas di pikiran saya. Atau mungkin juga karena disitu saya masih bisa menemukan kemerdekaan dalam berpikir dan berpendapat ternyata masih ditemukan disini. Mungkin hanya segelintir dari kita yang bisa benar-benar memahami bahwa salah satu kemerdekaan yang paling mahal harganya adalah kebebasan berpikir dan berpendapat,
namun tentu harus sesuai proporsi. Sore itu di ujung sebelah kiri halaman depan, yaitu tajuk rencana, ada judul yang sangat menarik.

Judulnya persis dengan judul yang saya tulis ini, tanpa sempat membaca isi dari tajuk rencana tersebut, saya sepertinya sudah bisa embaca apa isi yang ingin disampaikan dalam tulisan itu. Kalau kita melihat sekarang ini, salah satu sahabat yang paling akrab dengan
bangsa kita adalah bencana. Mungkin tidak ada negara di seluruh dunia ini yang mengalami berbagai bencana (baik bencana ‘alam’ ataupun bencana ‘manusia’, walaupun yang kedua ini sebenernya yang paling dominan setidaknya menurut pendapat saya) lebih dahsyat dari yang kita alami dalam tempo yang sedemikian singkat. Dan bencana itu hampir bisa dipastikan selalu menyisakan kenangan yang kurang manis bagi yang mengalami, biarpun ini juga sangat relatif. Nah di tengah-tengah puing-puing sisa ‘keganasan’ bencana tersebut, biasanya juga menunjukkan bagaimana ketangguhan seseorang.

Hanya orang-orang yang lulus ‘seleksi alam’ semacam itu yang akan terus survival, dan biasanya salah satu cirinya adalah mereka selalu percaya tetap ada ‘harapan’. Harapan itu bisa beragam bentuknya, dan semua orang berhak untuk mempunyai harapan yang dia bentuk dan cita-citakan sendiri.
Harapan merupakan sesuatu yang absurd tapi sangat penting keberadaannya, terutama bagi orang setelah mengalami fase ‘down’ dalam
hidup, karena harapan itu yang akan mendorong dia untuk terus berlari, atau setidaknya berjalan menatap jalan yang ada di depannya. Ketika orang sudah tidak percaya akan harapan, ketika itu juga dia sudah kalah dengan kehidupan. Mereka menjadi tidak punya cita-cita, menjadi gampang putus asa, menunggu mati sambil terus menghibur diri tanpa melakukan sesuatu yang harusnya bisa menjadikan dia lebih berarti.

Saya jadi diam merenungi apa yang sedang saya alami saat ini. Begitu banyak yang sudah saya lalui dan akan saya lewati, tentu harapan itu harus ada biarpun sangat kecil.

Harapan untuk bisa terus belajar..
Harapan akan berkurangnya rasa bebal..
Harapan akan mengikisnya ego dalam diri..
Harapan untuk kehidupan yang lebih baik..
Harapan akan cita yang ingin dicapai..

Karena sesungguhnya harapan itulah yang menjadikan kita terus berjalan hingga sampai di titik (yang mungkin menjemukan) ini. Lubang yang sangat memuakkan diri, tapi seringkali saya (kita) bermain disini. Hingga terbersit apakah kita harus berhenti, ah tapi bukankah harapan itu masih ada? Bahkan sangat besar disana, tinggal apakah kita mau mengambil atau membiarkan begitu saja.

Tak terasa maghrib sudah tiba, membuyarkan lamunan yang membuat saya lupa..

Finishing:
22 Feb. 07
11:12 AM
@ my bed room

10
Des
07

Satoe.

Road to jebus site

BG 2209 NK

start 14.52   finish undefined 

- Renungan kecil tentang waktu - 

Tak terasa sekitar tiga minggu lagi sudah memasuki tahun baru. Padahal rasanya baru kemaren saya menikmati tahun baru di kamar kos mahasiswa, sambil merenung, bukan pesta kembang api, bakar jagung or bakar ayam, tapi mikirin skripsi yang lagi-lagi menemui jalan buntu. Rasanya baru kemaren saya menikmati bubur kacang hijau sekitar pukul 2 dinihari mengisi tahun baru, sambil sudah menghitung jatah gorengan yang bisa dimakan karena terbatasnya uang recehan dikantong. Rasanya baru kemaren.. tapi sekarang? itu biarlah menjadi kenangan yang kelak bisa diceritakan ke anak cucu nanti. Yang lalu biarlah berlalu dan hadapi sekarang yang ada di depan mata. Toh masa lalu adalah sejarah, masa depan adalah khayalan, yang ada hanya sekarang. Lakukan sekarang yang ada sebaiknya, itu saja. 

Sesekali saya ingin juga menulis tentang waktu itu sendiri. Buat yang tidak begitu tertarik dengan tema ini, silakan siapkan bantal dan bersihkan kasur, segera tidurlah. Buat yang iseng kurang kerjaan coba marilah kita flashback kembali ke masa kecil kita. Memori kita masih mampu mengingat sampai mana? Kalau susah untuk memulai biarkan saya sedikit bercerita. Masih teringat dengan jelas di otak, ketika masih baru masuk TK, mungkin sekitar lima atau enam tahun, dan salah satu yang paling kuingat adalah setiap pulang dari sekolah, ibu masih sibuk dengan aktifitas masak memasaknya nya di dapur, sedangkan tugasku adalah menyapu lantai, setelah itu kuambil jatah makan sepiring nasi putih yang diatasnya dilumuri kecap. Kumakan makanan itu dengan nikmatnya,sambil bermain dua ekor burung dara yang terbuat dari kayu, saya mainkan layaknya seorang yang sedang adu merpati, seolah burung dara itu benar-benar hidup. Dasar anak kecil, salah satu yang paling menyenangkan menjadi anak kecil adalah kebebasan bermain dengan fantasinya masing-masing, membangun imaji sesuai dengan pikirannya. ketika dewasa mungkin kita juga masih bisa melakukannya tapi tak bisa sepolos ketika masih balita, tak bisa sebebas mereka. Saya suka tersenyum setiap mengingatnya, dan itu rasanya baru kemaren saya alami, padahal kejadian itu udah berlangsung sekitar 17 atau 18 tahun yang lalu.  

Sungguh tak berasa sekarang saya sudah setua ini. Waktu mungkin adalah sosok yang paling kejam di dunia, tak punya toleransi, tetapi juga sangat yakin dengan pendiriannya. Pernah ada teman yang protes dengan opini bahwa waktu adalah sosok kejam yang tak punya toleransi. Mendengar pertanyaan seperti ini, dalam hati seringkali saya bertanya dan merasa masih punya banyak teman yang ternyata belum benar-benar mengerti akan arti dari sebuah waktu. Coba bayangkan, gimana tak kejam dan tak punya toleransi, karena waktu tak pernah memberikan kesempatan kedua kepada kita, apalagi untuk memutar waktu agar bisa menghindari kesalahan yang pernah kita lakukan di masa sebelumnya. Waktu emang sangat kejam, tak peduli apapun yang terjadi dia terus dan tak berhenti berputar, detik demi detik, pelan tapi pasti, menit ke menit, kemudian jam-jam pun berlalu, tak terasa hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya. Tak pernah sedikitpun waktu berhenti walaupun cuma satu detik. Tapi memang harus seperti itu, agar hidup terus berlanjut. 

Begitu banyak manusia bahkan bisa dikatakan semua manusia bakal dikalahkan oleh sang waktu. Lihat saja begitu banyak kejadian yang terjadi di sekitar kita, bagaimana manusia begitu lemah tak berdaya dimakan oleh sang waktu. Lihat saja puluhan, oh tidak cuma puluhan tetapi ratusan, ratusan? sepertinya ribuan, bukan ribuan namun jutaan, atau ntah berapa lagi manusia yang ketika mudanya nampak sangat kuat dan gagah tak kuasa menahan laju sang waktu dan akirnya mereka semakin lemah, lemah sekali. 

Dulu ketika masih jaman kuliah, mungkin hampir semua mahasiswa dimana saja, banyak contoh yang dekat dengan mereka bagaimana seharusnya kita menyikapi waktu. Karena pada dasarnya dan pada akhirnya hidup ini memang sebuah pilihan, kalau seringkali kita menemukan pada kenyataan banyak manusia yang posisinya lemah, menurut struktur kekuasaaan (mungkin termasuk saya) seringkali dihadapkan pada posisi kita tak punya pilihan lagi, itu namanya juga sebuah pilihan. Biasanya ketika sudah mendekati deadline tugas ataupun ujian, entah ujian awal semester, tengah, maupun akhir semester, ada bermacam cara mahasiswa menghadapinya (berkaitan dengan waktu). Saat saya berkumpul denga mahasiswa baik-baik, yang tongkrongannya kampus, perpus, dan laboratorium, biasanya mereka bilang, “Ujian tinggal dua minggu lagi, masih banyak yang belum dipelajari”, seolah waktu menjadi makhluk yang mensayatkan. Kalau saja  mereka bisa menghentikan atau setidaknya menghambat pasti bakal mereka lakukan apapun resikonya. Beda lagi ketika bertemu dan berkumpul dengan kelompok yang nampak ’kurang baik-baik’, yang tongkrongannya  tak terbatas oleh ruang dan waktu, yang ruangan dan kamar kosnya selalu penuh dengan kepulan asap rokok, yang punya filosofi, “Belajar tempatnya bukan hanya di kampus bung!”, mereka biasanya bilang dengan santai, sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya: “Ujian?? nyantai masih seminggu lagi ntar hari sabtu cr master di tempat fotokopi juga banyak”, kalau yang ini tidak perlu dikonmentari terlalu panjang, saya takut diprotes dosen-dosen dan orang tua yang punya anak masih di bangku kuliah. Saya amat sangat takut ada mahasiswa yang terjebak karena menelan opini ini mentah-mentah, meskipun harusnya mereka cukup dewasa untuk bisa menentukan pilihan hidupnya, wong namanya juga mahasiswa, mana ada yang lebih tinggi dari gelar “Maha”. Tapi saya ini memang suka geer, lha kok sampai khawatir ada yang mau ikut dan percaya sama opini saya, (kowe iku sopo??) begitu kata orang jawa,  lha wong saya ini cuma gelandangan yang ingin terus belajar mencari arti hidup.  

Selalu begitulah waktu melindas siapa saja yang tak siap dengan segala kemungkinan. Menindas siapa saja yang terus terlena dengan masa lalu, yang suka berpikir tanpa bertindak, berencana tanpa bergerak, lebih-lebih bagi yang tak mau berpikir dan berencana. Pulang kerja, saat malam sudah sangat gelap, hujan lebat baru menemani perjalanan semakin menyempurnakan suasana yang demikian pas untuk berselimutkan mimpi. Kunyalakan radio, saat siaran radio udah mulai sangat jarang. Tape masih terus mencari track otomatis, akhirnya berhenti di gelombang 101,10 FM, mungkin ilegal karena suaranya sangat berisik terlalu banyak noise, tapi masih cukup jelas terdengar. 

Suara kelompok nasyid asal negri jiran, Rayhan, mendendangkan syair yang penuh arti.  

Demi masa… Sesungguhnya manusia dalam kerugian …

Melainkan yang …bla..bla.. Ingat lima per…Sebelum lima .. karasehat..bla..bla..bla.. 

saya mendengar diantara sadar dan tidak sadar karena terlalu lelah dengan hari ini, semakin pelan..

akhirnya saya tertidur pulas, kembali waktu terlewatkan begitu saja dalam hidupku… 

28
Nov
07

Tuntaskan

Start:

akhir February di sore hari

Dalam banyak hal seringkali kita membiasakan diri untuk mengerjakan sesuatu tidak sampai benar-benar selesai, kelar, beres, finish atau tuntas. Entah karena apa, karena saya sendiri kadang (atau malah sering?) juga mengalami hal yang sama. Atau memang sudah menjadi semacam tradisi atau budaya, kalau ada yang lebih baru biasanya kita sering melupakan yang lama. Tolong jangan berpresepsi macam-macam terlebih dahulu dengan kalimat sebelum ini, yang saya maksudkan di sini adalah beberapa hal saja. 

Kalau anda semakin bingung, saya akan memberikan sebuah contoh yang mungkin seringkali kita alami namun kita tidak pernah menyadari, tentang apa yang ingin saya sampaikan di tulisan ini. Sebagian besar dari kita sudah menganggap berita (koran utamanya) merupakan salah satu kebutuhan pokok sekarang. Walaupun terkadang kalau ada yang mau iseng menghitung, biasanya koran (umum) lebih banyak memuat artikel yang berisi suatu ‘kabar duka’ dibandingkan ‘kabar gembira’. Namun pernahkah kita menyadari, bahwa biasanya tema-tema yang menjadi headline news tidak pernah diketahui end-ing nya, alias tidak pernah tuntas. Ambil saja 2 bulan terakhir misalnya, bagi yang penikmat berita pasti masih teringat begitu jelas apa peristiwa penting yang dialami bangsa ini. Seingat memori saya, di akhir tahun 2006 kita disuguhi berita tenggelamnya kapal laut, kemudian disusul berita menghilangnya pesawat adam air, lalu banjir bandang di jakarta, kemudian yang lagi ramai sekarang naiknya harga beras, sedangkan yang paling hot news sekarang ini tentang korupsi (lagi) di lingkungan pejabat yang kali ini melibatkan seorang tokoh mentri yang merupakan putra asli daerah yang kini sedang saya tempati.  

Apa mungkin kecepatan kita menangani suatu masalah jauh lebih lambat dari kecepatan datangnya masalah itu sendiri? Sekarang coba apa ada yang bisa memberikan jawaban kepada saya, atau setidaknya tunjukkan koran atau televisi apa yang bisa memberi jawaban? Sudah ditemukan semua korban kapal Tristar tenggelam? Sudah ketemukah posisi pesawat Adam Air sesungguhnya dimana dan kenapa? Bagaimana solusi nyata yang bisa dilakukan atas banjir yang seolah menjadi tradisi di Jakarta, baik yang siklus tahunan, lima tahunan, atau berapa tahun pun? Apakah Impor beras menjadi jawaban dalam mengatasi mahalnya harga beras di negara yang sebagian besar penduduknya di sektor pertanian? Padahal sementara petani kita mengeluhkan harga gabah yang semakin turun? Belum lagi berita-berita yang sebenernya layak dijadikan headline, semacam kejadian demam berdarah yang sempat mewabah, tentang PP no 37, tentang bencana kereta api, tentang kabar PSSI atau KONI, serta berbagai berita lainnya yang (juga) tidak pernah ada solusinya? 

Dan sekarang berita tersebut semua menjadi barang ghaib yang tidak bisa terlihat oleh mata kita, padahal sebenernya itu ada bahkan sangat dekat. Kalau mau lebih ekstrim lagi, biasanya kita akan mengingat kejadian itu lagi (hanya) kalau ada peristiwa lagi yang mirip atau sejenis terulang di masa yang akan datang, biasanya dengan menghubung-hubungkan kejadian di masa lampau, lalu disusul analisa dari berbagai pihak yang tanpa solusi atau dihubungkan dengan sesuatu yang klenik (seperti akrab di bangsa ini) sehingga seolah memang persoalan tersebut tidak pernah bisa dipecahkan, dan akhirnya sudah bisa tertebak, berita-berita tersebut akan lenyap tanpa ada jalan keluar.  

Hari ini, ketika hujan di luar hujan turun dengan begitu derasnya, tiba-tiba saya tergelitik untuk memikirkan hal tersebut. Setidaknya berdasarkan apa yang saya alami selama ini, dilingkungan yang seringkali saya temui, ada banyak permasalahan yang diselesaikan tidak secara tuntas. Tidak tau alasan apa yang mendasari, namun seringkali saya merasakan seolah-olah mereka seringkali berkata “Ah.. itu kan bisa diteruskan besok..”, atau “Itu mah gampang, ntar aja juga pasti kelar..”, atau yang lebih pesimis, “Ya mau gimana lagi? Permasalahan ini memang seperti lingkaran setan, tidak tau harus dimulai dari mana..”. Namun itu masih sedikit ‘mendingan’ dibanding yang lebih ‘hebatnya’ lagi, yang malah kita seolah-olah tidak pernah mengalami dan menyadari tentang banyaknya persoalan yang sebenarnya menunggu untuk diselesaikan. Banyak yang merasa semua baik-baik saja, padahal saya merasa ada yang tidak seharusnya disana.  

Permasalahannya bukan karena kita tidak bisa atau mampu menyelesaikan, namun kita memang tidak mau menyelesaikannya. Dan itu dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk ‘mengentengkan’ permasalahan dan menunda pekerjaan, atau juga dalam bentuk ‘menganggap’ selesai sesuatu yang sebenernya belum selesai. Hal seperti itu hanyalah sebuah bom waktu, yang suatu saat pasti akan meledak. Tinggal menunggu saja ada sesuatu yang men-trigger. 

Itu di dalam lingkungan pekerjaan, dalam skala yang lebih kecil, dalam hubungan persahabatan, teman, atau pacaran misalnya. Seringkali sebuah pasangan berantem hebat bahkan berpisah hanya karena masalah-masalah kecil, tetapi (sayangnya) ditambahkan dengan yang terakumulasi dari permasalahan terdahulu yang belum terselesaikan dengan tuntas. Sehingga yang terjadi malah merusak suatu hubungan yang sudah terjalin. Maka dari itu alangkah baiknya kita mulai membiasakan menyelesaikan suatu problem apapun itu dengan tuntas, jangan setengah-setengah. Seperti iklan jaman dahulu tentang masalah kewanitaan yang sampai sekarang masih saya ingat,  “Sampai tuntas.. tas.. taaaaas..”. 

Tiba-tiba kok perut saya menjadi sakit, sepertinya saya harus ke WC. Mungkin tadi padi saya setor belum tuntas di kamar mandi.

 Finishing..About one hour later@ my Lovely Room

 

25
Nov
07

Pemerintahan Formalin

Start: Sunday, 29 July 200703:56 PM    

Kemaren pagi menjelang siang, setelah ’menyulap’ gudang menjadi ‘ruang santai’ di kantor, perut sudah tak tahan lagi untuk meminta jatah makan siang. Sebungkus nasi Padang dengan lauk ikan, nasi dilumuri dengan sambal yang sangat frontal di atasnya sudah siap di atas meja. Entah juga kok tumben-tumbennya makanan datang sangat awal dibanding biasanya, mungkin OB nya sedang lagi mode ON. Setelah mencuci tangan, mengambil segelas air teh panas yang sudah dingin, posisi memilih di depan televisi. Remote dipencet, entah saluran apa, yang jelas tangan berhenti memencet remot setelah menemukan acara siaran berita. Sambil meninggikan volume televisi, nasi bungkus juga dibuka, warna merah kecoklatan kuah santan, bercampur warna hijau cabai yang tak beraturan tak mengendurkan nafsu makan.  

Pembaca berita di televisi itu tampak sangat feminim, dalam hati sering berkata begitu banyak wanita cantik di negeri ini, termikasih Tuhan atas anugerah ini. Berita siang itu sebenernya masih itu-itu saja, hampir sama dengan koran kompas yang sudah terbaca begitu datang tadi. Tentang kampanye calon gubernur di ibukota, tentang (entah) isu presiden yang mempunyai anak dan istri sebelum dengan yang sekarang, berita-berita tentang kekeringan di pulau sana, dan banjir serta gelombang tinggi di pulau yang lain, tentang isu global warming di mana-mana dan sebagainya. Tapi ada satu berita yang sangat menarik perhatian walaupun sebenernya biasa saja, tentang formalin. Sekali lagi tema makanan yang mengandung formalin mulai menduduki hot topik minggu ini. Setelah beberapa waktu yang lalu (dan saya yakin masih sangat dekat waktunya), tahu dan bakso yang dituduh tersangka sebagai makanan yang mengandung formalin, kali ini ‘terdakwa’ nya adalah permen impor Cina.  

Sejujurnya saya orang yang tidak terlalu memperhatikan metode dan bahan-bahan apa yang saya makan, hanya karena saya sebagai seorang Islam, beberapa makanan memang tidak diijinkan (secara sengaja) masuk ke dalam perut ini. Mengapa saya sebut secara sengaja, karena tidak ada yang bisa menjamin apa yang ada dalam perut ini adalah makanan yang sudah lulus sensor (menurut keyakinan agama saya). Karena begitu banyak hal yang bisa menyebabkan makanan bisa tiba-tiba tidak masuk kriteria lulus sensor. Namun sekarang saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang kriteria2 tersebut, kembali ke masalah formalin dalam makanan. Bukan sok-sok menggurui dan meremehkan ‘tukang pengawas’ makanan dan obat di negeri ini, tapi ya kok rasanya kebangeten Dalam tayangan televisi setidaknya empat ‘brand’ permen yang diimpor dari negeri tirai bambu tersebut mengandung formalin, dan yang menyebalkan (sekaligus menyedihkan) adalah salah satunya ternyata permen favorit saya, white rabbit. Entah sudah berapa butir yang masuk ke dalam perut, permen yang bungkus plastik dalamnya bisa dimakan, yang aroma susunya sangat menyengat namun tak memuakkan, yang tingkat kelunakannya pas dengan kondisi gigi saya yang memang awut-awutan seperti kehidupan negara ini. Ribuan pastinya, itulah jumlah minimal permen yang bungkusnya bergambar mirip dengan majalah Playboy. 

Dulu ketika isu bakso dan tahu yang mengandung formalin, juga berbagai bahan kimia yang tidak layak masuk ke dalam perut manusia, seperti borax, hampir setiap hari berita tentang sidak di Supermarket dan Mall, pemeriksaan hampir setiap hari, razia di pasar tradisional dan sebagainya. Namun indikasi pemerintah selalu reaktif dan terkesan panik jelas-jelas nampak dalam hampir semua kasus yang ada di negeri ini. Dan biasanya penyelesaian ini akan ditutup dengan ‘kasus’ lain yang lebih menarik dan segar, walaupun sesungguhnya itu juga peristiwa basi yang sudah seringkali didengar di berita yang sudah lalu. Sayangnya kita sudah sangat terbiasa dan memaklumi, bahkan terkadang ikut terjebak ke dalam tingkah pemikiran seperti di atas. Sehingga bisa dikatakan tidak ada satu pun kasus yang terselesaikan dengan tuntas. Begitu mudahnya panik, berpikir dengan sangat-sangat pendek dan pintas dalam menyelesaikan masalah. Kita lebih suka ‘penyelesaian sementara’ untuk kemudian terlupa, dibanding dengan memikirkan rencana jangka panjang yang lebih matang sehingga tidak ditemukan lagi masalah yang sama di masa yang akan datang. Sekarang lagi ramai lagi tema formalin, sehingga kita terlupa isu tentang kaki gajah, penyakit misterius di Magelang yang sudah menewaskan puluhan orang, juga isu tentang flu burung, dan berbagai masalah lain, ini baru di sisi kesehatan. Kalau kita bermain dan melihat sejenak di bidang transportasi misalnya, tentang pesawat terbang yang jatuh, hilang, kapal laut tenggelam, tentang kereta api, tentang monorel, busway dan sebagainya. Mau ditunjukin bidang politik? Bidang sosial? Budaya? Ah rasanya tidak begitu perlu.  

Jika berkenan, mohon tunjukkan kepada saya, satu saja kasus penting di negeri ini yang berakhir tuntas. Agar setidaknya sebagai generasi muda (yang beranjak tua), saya tidak terlalu pesimis dengan negeri ini dalam menghadapi masa depan. 

Saya yakin begitu banyak cendekiawan dan orang pintar di negeri ini, ratusan atau ribuan jendral kita punya, ratusan atau ribuan professor bertebaran di negeri ini, tidak sedikit juga warga kita yang kapabilitas dan kemampuannya mendapat apresiasi di seluruh dunia. Di kampus saya saja ada hampir sepuluh dosen yang begelar Doktor, itu baru satu kampus. Bayangkan ada berapa kampus di negara ini. Belum lagi yang ‘magang’ di luar negeri, entah Singapura, Jerman, Jepang, Amerika, Inggris, Australia dan berbagai penjuru dunia. Saya juga sangat yakin, bapak ibu yang terhormat yang duduk di kursi empuk pemerintahan bukan orang sembarangan.  Tapi entah mengapa, sehebat dan sesuci apapun manusianya, ketika duduk di kursi yang bernama pemerintahan, yang mejanya bernama birokrasi, yang makanan adalah undang-undang dan minumannya beraroma ‘atas nama rakyat’, seolah semuanya mengandung formalin di dalamnya. Sehingga kanker menjangkiti mereka, akibatnya mandul pola pikirannya, mati rasa nurani dan jiwa kemanusiannya, dan berkembang virus kebodohannya, dan akhirnya semua hanya bisa melempem..  

Finish 04:47 PM

aranda  

11
Sep
07

Selamat Datang

Bismillah.

Berharap blog ini bisa tetap survive dari hadangan rasa malas.