Road to jebus site
BG 2209 NK
start 14.52 finish undefined
- Renungan kecil tentang waktu -
Tak terasa sekitar tiga minggu lagi sudah memasuki tahun baru. Padahal rasanya baru kemaren saya menikmati tahun baru di kamar kos mahasiswa, sambil merenung, bukan pesta kembang api, bakar jagung or bakar ayam, tapi mikirin skripsi yang lagi-lagi menemui jalan buntu. Rasanya baru kemaren saya menikmati bubur kacang hijau sekitar pukul 2 dinihari mengisi tahun baru, sambil sudah menghitung jatah gorengan yang bisa dimakan karena terbatasnya uang recehan dikantong. Rasanya baru kemaren.. tapi sekarang? itu biarlah menjadi kenangan yang kelak bisa diceritakan ke anak cucu nanti. Yang lalu biarlah berlalu dan hadapi sekarang yang ada di depan mata. Toh masa lalu adalah sejarah, masa depan adalah khayalan, yang ada hanya sekarang. Lakukan sekarang yang ada sebaiknya, itu saja.
Sesekali saya ingin juga menulis tentang waktu itu sendiri. Buat yang tidak begitu tertarik dengan tema ini, silakan siapkan bantal dan bersihkan kasur, segera tidurlah. Buat yang iseng kurang kerjaan coba marilah kita flashback kembali ke masa kecil kita. Memori kita masih mampu mengingat sampai mana? Kalau susah untuk memulai biarkan saya sedikit bercerita. Masih teringat dengan jelas di otak, ketika masih baru masuk TK, mungkin sekitar lima atau enam tahun, dan salah satu yang paling kuingat adalah setiap pulang dari sekolah, ibu masih sibuk dengan aktifitas masak memasaknya nya di dapur, sedangkan tugasku adalah menyapu lantai, setelah itu kuambil jatah makan sepiring nasi putih yang diatasnya dilumuri kecap. Kumakan makanan itu dengan nikmatnya,sambil bermain dua ekor burung dara yang terbuat dari kayu, saya mainkan layaknya seorang yang sedang adu merpati, seolah burung dara itu benar-benar hidup. Dasar anak kecil, salah satu yang paling menyenangkan menjadi anak kecil adalah kebebasan bermain dengan fantasinya masing-masing, membangun imaji sesuai dengan pikirannya. ketika dewasa mungkin kita juga masih bisa melakukannya tapi tak bisa sepolos ketika masih balita, tak bisa sebebas mereka. Saya suka tersenyum setiap mengingatnya, dan itu rasanya baru kemaren saya alami, padahal kejadian itu udah berlangsung sekitar 17 atau 18 tahun yang lalu.
Sungguh tak berasa sekarang saya sudah setua ini. Waktu mungkin adalah sosok yang paling kejam di dunia, tak punya toleransi, tetapi juga sangat yakin dengan pendiriannya. Pernah ada teman yang protes dengan opini bahwa waktu adalah sosok kejam yang tak punya toleransi. Mendengar pertanyaan seperti ini, dalam hati seringkali saya bertanya dan merasa masih punya banyak teman yang ternyata belum benar-benar mengerti akan arti dari sebuah waktu. Coba bayangkan, gimana tak kejam dan tak punya toleransi, karena waktu tak pernah memberikan kesempatan kedua kepada kita, apalagi untuk memutar waktu agar bisa menghindari kesalahan yang pernah kita lakukan di masa sebelumnya. Waktu emang sangat kejam, tak peduli apapun yang terjadi dia terus dan tak berhenti berputar, detik demi detik, pelan tapi pasti, menit ke menit, kemudian jam-jam pun berlalu, tak terasa hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya. Tak pernah sedikitpun waktu berhenti walaupun cuma satu detik. Tapi memang harus seperti itu, agar hidup terus berlanjut.
Begitu banyak manusia bahkan bisa dikatakan semua manusia bakal dikalahkan oleh sang waktu. Lihat saja begitu banyak kejadian yang terjadi di sekitar kita, bagaimana manusia begitu lemah tak berdaya dimakan oleh sang waktu. Lihat saja puluhan, oh tidak cuma puluhan tetapi ratusan, ratusan? sepertinya ribuan, bukan ribuan namun jutaan, atau ntah berapa lagi manusia yang ketika mudanya nampak sangat kuat dan gagah tak kuasa menahan laju sang waktu dan akirnya mereka semakin lemah, lemah sekali.
Dulu ketika masih jaman kuliah, mungkin hampir semua mahasiswa dimana saja, banyak contoh yang dekat dengan mereka bagaimana seharusnya kita menyikapi waktu. Karena pada dasarnya dan pada akhirnya hidup ini memang sebuah pilihan, kalau seringkali kita menemukan pada kenyataan banyak manusia yang posisinya lemah, menurut struktur kekuasaaan (mungkin termasuk saya) seringkali dihadapkan pada posisi kita tak punya pilihan lagi, itu namanya juga sebuah pilihan. Biasanya ketika sudah mendekati deadline tugas ataupun ujian, entah ujian awal semester, tengah, maupun akhir semester, ada bermacam cara mahasiswa menghadapinya (berkaitan dengan waktu). Saat saya berkumpul denga mahasiswa baik-baik, yang tongkrongannya kampus, perpus, dan laboratorium, biasanya mereka bilang, “Ujian tinggal dua minggu lagi, masih banyak yang belum dipelajari”, seolah waktu menjadi makhluk yang mensayatkan. Kalau saja mereka bisa menghentikan atau setidaknya menghambat pasti bakal mereka lakukan apapun resikonya. Beda lagi ketika bertemu dan berkumpul dengan kelompok yang nampak ’kurang baik-baik’, yang tongkrongannya tak terbatas oleh ruang dan waktu, yang ruangan dan kamar kosnya selalu penuh dengan kepulan asap rokok, yang punya filosofi, “Belajar tempatnya bukan hanya di kampus bung!”, mereka biasanya bilang dengan santai, sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya: “Ujian?? nyantai masih seminggu lagi ntar hari sabtu cr master di tempat fotokopi juga banyak”, kalau yang ini tidak perlu dikonmentari terlalu panjang, saya takut diprotes dosen-dosen dan orang tua yang punya anak masih di bangku kuliah. Saya amat sangat takut ada mahasiswa yang terjebak karena menelan opini ini mentah-mentah, meskipun harusnya mereka cukup dewasa untuk bisa menentukan pilihan hidupnya, wong namanya juga mahasiswa, mana ada yang lebih tinggi dari gelar “Maha”. Tapi saya ini memang suka geer, lha kok sampai khawatir ada yang mau ikut dan percaya sama opini saya, (kowe iku sopo??) begitu kata orang jawa, lha wong saya ini cuma gelandangan yang ingin terus belajar mencari arti hidup.
Selalu begitulah waktu melindas siapa saja yang tak siap dengan segala kemungkinan. Menindas siapa saja yang terus terlena dengan masa lalu, yang suka berpikir tanpa bertindak, berencana tanpa bergerak, lebih-lebih bagi yang tak mau berpikir dan berencana. Pulang kerja, saat malam sudah sangat gelap, hujan lebat baru menemani perjalanan semakin menyempurnakan suasana yang demikian pas untuk berselimutkan mimpi. Kunyalakan radio, saat siaran radio udah mulai sangat jarang. Tape masih terus mencari track otomatis, akhirnya berhenti di gelombang 101,10 FM, mungkin ilegal karena suaranya sangat berisik terlalu banyak noise, tapi masih cukup jelas terdengar.
Suara kelompok nasyid asal negri jiran, Rayhan, mendendangkan syair yang penuh arti.
Demi masa… Sesungguhnya manusia dalam kerugian …
Melainkan yang …bla..bla.. Ingat lima per…Sebelum lima .. karasehat..bla..bla..bla..
saya mendengar diantara sadar dan tidak sadar karena terlalu lelah dengan hari ini, semakin pelan..
akhirnya saya tertidur pulas, kembali waktu terlewatkan begitu saja dalam hidupku…
Komentar Terakhir