Halaman Arsip 2

13
Jan
09

Cognitive Radio

Iseng buka2 folder lama, daripada jadi sampah, barangkali ada yang mau lanjutin buat riset atau TA dsb..

Idenya cognitive radio ini sebenernya untuk mengatur resource (frekuensi) seefisien mungkin ditengah semaraknya bermacam-macam teknologi wireless. Ini ada beberapa catatan fundamental yang mungkin bisa memberikan gambaran. Kalau tertarik silakan browsing di internet, atau bisa menghubungi saya, karena ada beberapa referensi bagus yang saya punya.

 

Important Note:

  1. CR simplified view
    1. Cognitive radio adapt to spectrum environment
    2. SDR adapt to network environment 
  2. What is Cognitive Radio
    1. Tune to any available channel in the target band
    2. Establish network communications and operate in all or part of the channel
    3. Implement channel sharing and power control protocols which adapt to spectrum occupied by multiple heterogeneous network
    4. Implement adaptive transmission bandwidth, data rate, and error correction schemes to obtain the best throughput possible
    5. Implement adaptive antenna steering to focus transmitter power in the direction required to optimized received signal strength
  3. Two protocols have emerged as early cognitive radio behavior
    1. Dynamic Frequency Selection

                                                              i.      Originally used to describe a technique to avoid radar signal by 802.11a networks which operate in the 5GHz U-NII band

                                                             ii.      Now generalized to refer to an automatic frequency selection process intended to achieve some specific objective (like avoiding harmful interference to a radio system with a higher regulatory priority)

           b.  Transmit Power Control

                                                              i.      Originally a mechanism for 802.11a network to lower aggregate transmit power by 3dB from the maximum regulatory limit to protect ESSS (Earth Exploration Satellite System) operations

                                                             ii.      Now generalized to a mechanism that adaptively sets transmitter power based on the spectrum or regulatory environment 

   4. Another key cognitive radio behavior is incumbent profile detection (IPD)

  1. IPD is the ability to detect an incumbent user (one with regulatory priority) based on a specific spectrum signature
  2. DFS requires an IPD protocol identify unoccupied, or lightly used frequencies
  3. IPD includes detection schemes focused on the characteristics of the specific incumbents in the band, or bands, that the cognitive radio is designed to support
  4. IPD eliminates the need for geo location techniques (GPS, etc) to determine the location of the radio and, using a database, identify unused channels

Reference:

Cognitive Radio Emerges from Obscurity”, John Notor, January 23, 2004

12
Jan
09

Femtocell

Femtocell atau Home Node B adalah ….

(ntar dilanjut, skr baru searching bahan..)

12
Jan
09

gak enak badan

12 Januari 09 – sore”.

Agak gak enak badan. mood jadi gak bagus.

Bumi lg tidur

Bumi lg tidur

Tadi siang ke kantor catatan sipil (pas udah seminggu), ternyata Akte Bumi belum juga ada, katanya (mungkin) minggu depan…

dari dulu sampe sekarang ngurus yang kaya ginian kok teteup susah ya??

08
Jan
09

Review Week 1 (20 Desember 2008 – 27 Desember 2008)

Review Week 1 (20 Desember 2008 – 27 Desember 2008)

 20 Desember 2008

Finally, di sebuah klinik yang berada di hampir perbatasan kota pangkal pinang, sekitar pukul 21.50, terdengar suara melodi tangisan yang seketika membuat saya bernafas lega. 

 

Kedinginan

Kedinginan

Alhamdulillah, dengan tergopoh-gopoh suster menggendong seorang bayi mungil yang setelah di ukur memiliki berat 3 kg dengan panjang 44 cm. Sekitaran pukul 22.00 Wib kubisikkan adzan dan iqomah di telinga kanan dan kirinya. Wajahnya yang bersih, semakin terlihat tenang ketika kudoakan dan diakhiri dengan kecupan di keningnya.

 

Robbi Habli Minas Sholihin Ya Allah..

(Karuniakan kami Anak yang Sholeh Ya Allah..)

 

 

 21 Desember 2008

 

Merem or Melek??

Merem or Melek??

Dinihari, di kamar nomer 2, aku melihat dia (cayo ya bunda..) masih tergolek lemah di kasur. Sementara bayi yang belum bernama ini masih tidur dengan lelapnya. Terkadang di selingi dengan tangisan, entah ketika dia haus atau lapar, atau juga ketika buang air kecil. Hari pertama ini suster dan perawat masih menjadi andalan untuk mengganti popok dan segala propertiesnya.

 

 

 

22 Desember 2008

Alhamdulillah, air susu bunda udah mulai keluar, jadi Bumi tidak perlu lagi minum susu formula (bukan Formalin). Masih dengan mata yang tinggal 5 watt, kami mulai hari-hari baru yang sudah sangat dinantikan. Lelah memah, tapi seketika musnah ketika melihat bayi yang namanya masih terus di diskusikan. Pagi itu pulang, kuambil laptop untuk menemani hari-hari begadang di klinik. Dari browsing kesana kemari, ada 3 kandidat kuat yang difavoritkan sebagai nama:

1.        Bumi Akmal Abdillah

2.       Narayan Bumi Jauhar

3.       Bumi Jauhar Khawarizmi

Masih keukeuh dengan bumi, dasar keras kepala (heheheh)… J

 23 Desember 2008

Motor Mio pinjaman, plus helm pinjaman, dan kacamata sitaan (gak modal amat yak…), menemani perjalanan rumah ke klinik. Bersiap menyodorkan list kandidat nama kepada konsultan (yang tak lain tak bukan adalah kakek nenek si bayi mungil). Setelah sarapan nasi rawon, kembali ke rumah sakit dengan membawa keputusan hampir “final” tentang nama si bayi. Bumi Jauhar Khawarizmi yang artinya Permata Ilmu Pengetahuan (please jangan diartikan harfiah, ntar si bunda nya marah kekeke..).

 

24 Desember 2008

 

Bumi sama nenek

Bumi sama nenek

Bersiap menjemput ibu (nenek si bayi) dengan mobil (yang lagi-lagi pinjaman), untuk persiapan membawa bumi dan sang bunda pulang ke rumah yang sebenarnya. Mau nyelesaikan masalah administrasi dulu, tapi sang dokter masih sarapan jadi musti menunggu. Bisa dimaklumi, kalo dokter yang sarapan kan musti di kecap berkali-kali sebelum makanan masuk ke dalam kerongkongan, jadi wajar kalau satu jam berlalu tapi pak dokter belum juga nongol. Akhirnya setelah keringat mulai turun karena gak sabar, perawat di request untuk menyampaikan ke dokter. Tak berapa lama pak dokter turun, dengan agak tergesa-gesa, menghitung beberapa lembar uang dan menulis kuitansi, selesai sudah urusan administrasi hari itu. Disambut gerimis kecil, kedatangan kami ke rumah di daerah black water (Air Itam) berlangsung aman dan terkendali.

 

 

 

Malamnya pergi ke dokter anak untuk melakukan imunisasi ke daerah Girimaya. Bumi hanya sedikit “menjerit” ketika jarum suntik masuk ke dalam tubuhnya. Setelah itu dilanjutkan lah mimpi Bumi (jangan niru om yang ada di Sarang Gembels ya nak)…

 

 

25 Desember

Bumi melek

Bumi melek

Hari libur nasional, yang jatuh di hari kamis, seperti biasa dilanjutkan cuti bersama besoknya, tentu sangat dinantikan para pekerja (

termasuk saya), walaupun kalau dipikir lagi kapan kerja nya kita kalau sedikit2 libur bersama. Masih belajar mencoba menjadi ayah yang baik, dengan merasakan mencuci popok, setrika dan sebagainya. Tapi sejauh ini kondisi masih terkendali, karena bunda masih sangat sigap dalam urusan mengganti popok, bedong dan sebagainya.  Si Bumi sudah mulai bisa membuka matanya lebih baik..

 

26 Desember 2008

Dengan sedikit pesimis karena sudah bisa ditebak (berbagai instansi pemerintahan pasti tutup juga pelayanannya), sebagai warga negara yang baik, bumi belum diakui kewarganegaraannya sebelum ada Akte Kelahiran. Yupe! Hari itu pagi setelah sarapan, langsung meluncur ke Kantor Capil yang letaknya tidak jauh dari kantor. Sudah bisa di tebak, kantor TUTUP, jadi target selanjutnya ke rumah Pak RT dulu (karena KTP masih tinggal di rumah kontrakan, repot mau urus2 surat pindah2an, maap ya pak RT yang baru). Lagi-lagi sedikit kurang beruntung, Pak RT yang diharapkan baru saja keluar, dan di suruh datang lagi abis jumatan. Masjid jamik menjadi sasaran tempat jumatan, langsung menuju Bakso Singo Edan sebagai menu makan siang, dan ke Rumah Pak RT. Nasib memang kurang berpihak, pak RT belum ada di rumah, dan setelah di telpon katanya di suruh langsung ke kelurahan. Tuing! Guyonan khas birokrasi pemerintah.. Di lempar kesana kemari, akhirnya lanjut ke kelurahan dan lagi-lagi TUTUP!!. Siang itu di tengah gerimis hujan, belum membuahkan hasil. Maaf Bumi, ayah akan berusaha lagi untuk mengurus akte kelahiran mu.. hehehehe..

 

27 Desember 2008

 

Sebagai penutup minggu ini, exclusive picture from Bumi..

Wuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..

Wuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..

 

 

Masih menikmati Long Weekend, liat si Bumi kalo lagi nangis.. Hehehehe.. matanya sampe tinggal segaris.

 

Minggu ini ditutup sampai segini dulu ya, nantikan edisi selanjutnya..

 

 
29
Nov
08

Saduran

ada tulisan bagus, mungkin bisa direnungkan buat yang ribut2 tentang Islam & Terorisme..

Islam itu tidak menyakiti siapa-siapa
Islam itu kalau ada paku ditengah jalan dipinggirkan
Islam itu adalah kalau ada barang mubazir didaya gunakan
Islam adalah tidak mengganggu tetangga
Islam adalah tangan ini tidak boleh nganggur, kaki tidak boleh nganggur, tidak boleh ada barang mubazir
Malas itu makruh hukumnya, tidak boleh ada malas, pikiran harus cerdas dipakai terus, tangan kaki bekerja terus berkeringat.
Islam itu tidak gampang curiga, gampang su’udhon dan gampang marah
Kalau petani, Islam adalah memelihara kesuburan tanah, jangan terus menerus ditanami
Kalau tukang ojek, Islam adalah jadikan penumpangmu merasa aman kalau menaiki ojekmu.
Kalau anda jualan di toko atau warung, Islam adalah orang yang beli itu merasa aman dan percaya pada apa yang anda jual.
(Emha Ainun Nadjib/Maiyah Rusun Penjaringan Jakarta, 09 Juni 2004/PmBNetDok)

24
Nov
08

(second) welcome..

dikarenakan..

1. Banyaknya komplain yang menunutut blog ini di update

2. menyambut kedatangan buce junior

diputuskan

BLOG ini siap untuk diupdate..

selamat datang semua!!

29
Jan
08

Membangun Kembali Harapan

Sore sehabis pulang kerja, sambil menunggu keringat mengering, biasanya Kompas menjadi teman yang paling setia. Demikian juga hari ini, rasa capek belum hilang karena hari ini cukup lumayan banyak kerjaan. Jam di tangan menunjukkan setengah enam pas saya sudah tiba di kos, setelah meletakkan tas Samsonite dengan hati-hati karena berisi laptop, melemparkan dua handphone ke atas kasur, serta melepaskan pakaian putih kotak yang sudah basah oleh keringat, segera saya merebahkan diri di atas karpet. Setelah menenggak susu beruang, kompas kemudian diambil dari tas rangsel hitam itu. Sejujurnya hari ini malas sekali membaca, hanya membaca judul kemudian dibalik ke halaman berikutnya.
Sepertinya berita hari ini tidak jauh berbeda dengan kemarin-kemarin, soal beras, korupsi, bom bunuh diri Irak, nuklir Iran, atau kisruh  di Bangladesh, yang ‘update’ sepertinya hanya hasil pertandingan sepak bola dan tenis serta golf saja. Berita politik, sosial, ekonomi,  epertinya masih berkutat pada isu yang itu-itu saja, kadang saya sendiri bertanya kapan seh kita bosan dengan tema kelaparan, harga yang melambung tinggi, korupsi, bencana, dan kawan-kawannya. Tidakkah kita rindu dengan berita yang sedikit menggembirakan, ah serasa naif kalau saya sebutkan contohnya, nanti yang ada malah ditegur pak menteri: “..jangan berlebihan..”, bisa tambah ruwet pikiran.

Setelah membolak-balik, tiba pada kolom yang paling saya sukai yaitu kolom opini. Entah kenapa saya sangat suka kolom tersebut,  mungkin disitu banyak hal baru yang mungkin selama ini tak terlintas di pikiran saya. Atau mungkin juga karena disitu saya masih bisa menemukan kemerdekaan dalam berpikir dan berpendapat ternyata masih ditemukan disini. Mungkin hanya segelintir dari kita yang bisa benar-benar memahami bahwa salah satu kemerdekaan yang paling mahal harganya adalah kebebasan berpikir dan berpendapat,
namun tentu harus sesuai proporsi. Sore itu di ujung sebelah kiri halaman depan, yaitu tajuk rencana, ada judul yang sangat menarik.

Judulnya persis dengan judul yang saya tulis ini, tanpa sempat membaca isi dari tajuk rencana tersebut, saya sepertinya sudah bisa embaca apa isi yang ingin disampaikan dalam tulisan itu. Kalau kita melihat sekarang ini, salah satu sahabat yang paling akrab dengan
bangsa kita adalah bencana. Mungkin tidak ada negara di seluruh dunia ini yang mengalami berbagai bencana (baik bencana ‘alam’ ataupun bencana ‘manusia’, walaupun yang kedua ini sebenernya yang paling dominan setidaknya menurut pendapat saya) lebih dahsyat dari yang kita alami dalam tempo yang sedemikian singkat. Dan bencana itu hampir bisa dipastikan selalu menyisakan kenangan yang kurang manis bagi yang mengalami, biarpun ini juga sangat relatif. Nah di tengah-tengah puing-puing sisa ‘keganasan’ bencana tersebut, biasanya juga menunjukkan bagaimana ketangguhan seseorang.

Hanya orang-orang yang lulus ‘seleksi alam’ semacam itu yang akan terus survival, dan biasanya salah satu cirinya adalah mereka selalu percaya tetap ada ‘harapan’. Harapan itu bisa beragam bentuknya, dan semua orang berhak untuk mempunyai harapan yang dia bentuk dan cita-citakan sendiri.
Harapan merupakan sesuatu yang absurd tapi sangat penting keberadaannya, terutama bagi orang setelah mengalami fase ‘down’ dalam
hidup, karena harapan itu yang akan mendorong dia untuk terus berlari, atau setidaknya berjalan menatap jalan yang ada di depannya. Ketika orang sudah tidak percaya akan harapan, ketika itu juga dia sudah kalah dengan kehidupan. Mereka menjadi tidak punya cita-cita, menjadi gampang putus asa, menunggu mati sambil terus menghibur diri tanpa melakukan sesuatu yang harusnya bisa menjadikan dia lebih berarti.

Saya jadi diam merenungi apa yang sedang saya alami saat ini. Begitu banyak yang sudah saya lalui dan akan saya lewati, tentu harapan itu harus ada biarpun sangat kecil.

Harapan untuk bisa terus belajar..
Harapan akan berkurangnya rasa bebal..
Harapan akan mengikisnya ego dalam diri..
Harapan untuk kehidupan yang lebih baik..
Harapan akan cita yang ingin dicapai..

Karena sesungguhnya harapan itulah yang menjadikan kita terus berjalan hingga sampai di titik (yang mungkin menjemukan) ini. Lubang yang sangat memuakkan diri, tapi seringkali saya (kita) bermain disini. Hingga terbersit apakah kita harus berhenti, ah tapi bukankah harapan itu masih ada? Bahkan sangat besar disana, tinggal apakah kita mau mengambil atau membiarkan begitu saja.

Tak terasa maghrib sudah tiba, membuyarkan lamunan yang membuat saya lupa..

Finishing:
22 Feb. 07
11:12 AM
@ my bed room

10
Des
07

Satoe.

Road to jebus site

BG 2209 NK

start 14.52   finish undefined 

- Renungan kecil tentang waktu - 

Tak terasa sekitar tiga minggu lagi sudah memasuki tahun baru. Padahal rasanya baru kemaren saya menikmati tahun baru di kamar kos mahasiswa, sambil merenung, bukan pesta kembang api, bakar jagung or bakar ayam, tapi mikirin skripsi yang lagi-lagi menemui jalan buntu. Rasanya baru kemaren saya menikmati bubur kacang hijau sekitar pukul 2 dinihari mengisi tahun baru, sambil sudah menghitung jatah gorengan yang bisa dimakan karena terbatasnya uang recehan dikantong. Rasanya baru kemaren.. tapi sekarang? itu biarlah menjadi kenangan yang kelak bisa diceritakan ke anak cucu nanti. Yang lalu biarlah berlalu dan hadapi sekarang yang ada di depan mata. Toh masa lalu adalah sejarah, masa depan adalah khayalan, yang ada hanya sekarang. Lakukan sekarang yang ada sebaiknya, itu saja. 

Sesekali saya ingin juga menulis tentang waktu itu sendiri. Buat yang tidak begitu tertarik dengan tema ini, silakan siapkan bantal dan bersihkan kasur, segera tidurlah. Buat yang iseng kurang kerjaan coba marilah kita flashback kembali ke masa kecil kita. Memori kita masih mampu mengingat sampai mana? Kalau susah untuk memulai biarkan saya sedikit bercerita. Masih teringat dengan jelas di otak, ketika masih baru masuk TK, mungkin sekitar lima atau enam tahun, dan salah satu yang paling kuingat adalah setiap pulang dari sekolah, ibu masih sibuk dengan aktifitas masak memasaknya nya di dapur, sedangkan tugasku adalah menyapu lantai, setelah itu kuambil jatah makan sepiring nasi putih yang diatasnya dilumuri kecap. Kumakan makanan itu dengan nikmatnya,sambil bermain dua ekor burung dara yang terbuat dari kayu, saya mainkan layaknya seorang yang sedang adu merpati, seolah burung dara itu benar-benar hidup. Dasar anak kecil, salah satu yang paling menyenangkan menjadi anak kecil adalah kebebasan bermain dengan fantasinya masing-masing, membangun imaji sesuai dengan pikirannya. ketika dewasa mungkin kita juga masih bisa melakukannya tapi tak bisa sepolos ketika masih balita, tak bisa sebebas mereka. Saya suka tersenyum setiap mengingatnya, dan itu rasanya baru kemaren saya alami, padahal kejadian itu udah berlangsung sekitar 17 atau 18 tahun yang lalu.  

Sungguh tak berasa sekarang saya sudah setua ini. Waktu mungkin adalah sosok yang paling kejam di dunia, tak punya toleransi, tetapi juga sangat yakin dengan pendiriannya. Pernah ada teman yang protes dengan opini bahwa waktu adalah sosok kejam yang tak punya toleransi. Mendengar pertanyaan seperti ini, dalam hati seringkali saya bertanya dan merasa masih punya banyak teman yang ternyata belum benar-benar mengerti akan arti dari sebuah waktu. Coba bayangkan, gimana tak kejam dan tak punya toleransi, karena waktu tak pernah memberikan kesempatan kedua kepada kita, apalagi untuk memutar waktu agar bisa menghindari kesalahan yang pernah kita lakukan di masa sebelumnya. Waktu emang sangat kejam, tak peduli apapun yang terjadi dia terus dan tak berhenti berputar, detik demi detik, pelan tapi pasti, menit ke menit, kemudian jam-jam pun berlalu, tak terasa hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya. Tak pernah sedikitpun waktu berhenti walaupun cuma satu detik. Tapi memang harus seperti itu, agar hidup terus berlanjut. 

Begitu banyak manusia bahkan bisa dikatakan semua manusia bakal dikalahkan oleh sang waktu. Lihat saja begitu banyak kejadian yang terjadi di sekitar kita, bagaimana manusia begitu lemah tak berdaya dimakan oleh sang waktu. Lihat saja puluhan, oh tidak cuma puluhan tetapi ratusan, ratusan? sepertinya ribuan, bukan ribuan namun jutaan, atau ntah berapa lagi manusia yang ketika mudanya nampak sangat kuat dan gagah tak kuasa menahan laju sang waktu dan akirnya mereka semakin lemah, lemah sekali. 

Dulu ketika masih jaman kuliah, mungkin hampir semua mahasiswa dimana saja, banyak contoh yang dekat dengan mereka bagaimana seharusnya kita menyikapi waktu. Karena pada dasarnya dan pada akhirnya hidup ini memang sebuah pilihan, kalau seringkali kita menemukan pada kenyataan banyak manusia yang posisinya lemah, menurut struktur kekuasaaan (mungkin termasuk saya) seringkali dihadapkan pada posisi kita tak punya pilihan lagi, itu namanya juga sebuah pilihan. Biasanya ketika sudah mendekati deadline tugas ataupun ujian, entah ujian awal semester, tengah, maupun akhir semester, ada bermacam cara mahasiswa menghadapinya (berkaitan dengan waktu). Saat saya berkumpul denga mahasiswa baik-baik, yang tongkrongannya kampus, perpus, dan laboratorium, biasanya mereka bilang, “Ujian tinggal dua minggu lagi, masih banyak yang belum dipelajari”, seolah waktu menjadi makhluk yang mensayatkan. Kalau saja  mereka bisa menghentikan atau setidaknya menghambat pasti bakal mereka lakukan apapun resikonya. Beda lagi ketika bertemu dan berkumpul dengan kelompok yang nampak ’kurang baik-baik’, yang tongkrongannya  tak terbatas oleh ruang dan waktu, yang ruangan dan kamar kosnya selalu penuh dengan kepulan asap rokok, yang punya filosofi, “Belajar tempatnya bukan hanya di kampus bung!”, mereka biasanya bilang dengan santai, sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya: “Ujian?? nyantai masih seminggu lagi ntar hari sabtu cr master di tempat fotokopi juga banyak”, kalau yang ini tidak perlu dikonmentari terlalu panjang, saya takut diprotes dosen-dosen dan orang tua yang punya anak masih di bangku kuliah. Saya amat sangat takut ada mahasiswa yang terjebak karena menelan opini ini mentah-mentah, meskipun harusnya mereka cukup dewasa untuk bisa menentukan pilihan hidupnya, wong namanya juga mahasiswa, mana ada yang lebih tinggi dari gelar “Maha”. Tapi saya ini memang suka geer, lha kok sampai khawatir ada yang mau ikut dan percaya sama opini saya, (kowe iku sopo??) begitu kata orang jawa,  lha wong saya ini cuma gelandangan yang ingin terus belajar mencari arti hidup.  

Selalu begitulah waktu melindas siapa saja yang tak siap dengan segala kemungkinan. Menindas siapa saja yang terus terlena dengan masa lalu, yang suka berpikir tanpa bertindak, berencana tanpa bergerak, lebih-lebih bagi yang tak mau berpikir dan berencana. Pulang kerja, saat malam sudah sangat gelap, hujan lebat baru menemani perjalanan semakin menyempurnakan suasana yang demikian pas untuk berselimutkan mimpi. Kunyalakan radio, saat siaran radio udah mulai sangat jarang. Tape masih terus mencari track otomatis, akhirnya berhenti di gelombang 101,10 FM, mungkin ilegal karena suaranya sangat berisik terlalu banyak noise, tapi masih cukup jelas terdengar. 

Suara kelompok nasyid asal negri jiran, Rayhan, mendendangkan syair yang penuh arti.  

Demi masa… Sesungguhnya manusia dalam kerugian …

Melainkan yang …bla..bla.. Ingat lima per…Sebelum lima .. karasehat..bla..bla..bla.. 

saya mendengar diantara sadar dan tidak sadar karena terlalu lelah dengan hari ini, semakin pelan..

akhirnya saya tertidur pulas, kembali waktu terlewatkan begitu saja dalam hidupku… 

28
Nov
07

Pessimist or Realistic??

Start:

Sunday, June 07

This day is Saturday, times to take a rest from all activities that feel so suck. All of the people compete to satisfy they self with so many kinds of way, just to forget all routine activities. So do I, in this holiday I wish (and pray) that I can relax at lest for one or two days, though I know (since the first times I accept this) my jobs need attention everytimes (including in this holiday), cause this Friday is Waisak Days, so we get long weekend (again, one week a go also long weekend). This is my country, there are so many rest day in each years than the busy days. Well.. Its ok, I don’t want a talk about it (directly, why i say that directly cause i guess everything that i already write just for my country ofcourse) in this article. I want to give all of u bout some dialog between me and Pak RT yesterday, I get so many ‘unpredictable’ opinion from him. This happen when I visit Pak RT house just to introduce my self and want take some permition to live in my complex house. Maybe its not really important in this island (I know this after the dialog) to want some permition, because peoples around us usually not really care with us since we dont disturb them and do something bad. Meanwhile i think what i do its not bad, moreover in my island the new resident in new place should give some report that they will stay in that place. I thinks its will be very usefull oneday if something happen, cause we can’t live alone in this world. 

Thats evening, about 04.00 PM, with my red shirt with little logo of my company, black trousers that feel to become small (or my stomatch to become bigger hehehe..), and my green jepit I go to Pak RT House. The distance its about 30 meters from my house, not really far maybe, but I still go to the place mith my motorcycle, because I also have plan to go to Puncak for bough jeans. (In my agenda i just give some ID card to Pak RT, but what happens its change totally. I talk with pak RT very-very long times, about 1,5 hours!! We talk about so many topics, I dont know how we can talk so long like that, cause ask I know and also Pak RT admit if usually the people in this island so hard and difficult to talk with the neighbour. In the end, I decide to delay go to Puncak, because no more than one hour toward maghrib). 

Pak RT house is nice house I think, with a palm tree in front of the white fence feel so cold and romantic house. After parking my motorcycle beside the palm I comes into the house, then I knock the doors. I wait for the second, then pick the bell, after that the old man (about 60 years) open the doors. Wearing white shirt (from one of politic organization, it can be seen from the logos) and short white pant, i hold her hand “Dani sir.., i’m a new resident.. ”, refflectly I introduce my self. After that he told me to comes and sit down, I accept with pleasure. I thinks important for me to talk just to know about this environtment and the charracteristic the human of this place.  

First we talk about some problem that he get about 2 years ago, its about tellecomunication. Absolutly I must hear carefully, because its have relationship with the company where I work there (he is one of customers my company, he and his family use our product, and handle some complaint from the customers its must be done although its not my job desk). Minute by minute we talk out of topic, about her pass experience, about family, about live, about anything. Sometimes we laugh if it feel funny, also some reality that feel so hard and all we can just laugh, before the real laugh us like him opinion. 

One times he say, “I dont want to cut and kill ur idealism, but as a old man I’m so sad with this country. There is no hero anymore, if you can keep survival, its enough and good for you”. I dont know this is called by pessimist or is this the realistic, I hear with so patience and carefull, I dont want one of word that he talk to me lost from my attention, honestly I’m so interested with him opinion. “This county have no proud anymore, its can see from so many neighbour country brave to stamp us. A long times a go they really fear if we attach them, but now they catch our island as they like. We educated to become more fool, if you have a little brain you still didn’t have a chance to implementation your idea. Be a good people also become more hard and difficult, so many challenge, and you have not respected by many peoples”. I drink a red syrup that already serve by his wifes, in my heart one more times I ask to my self wheater this is called pessimist or realistis. He still continues him ‘preach’, “So many illness and virus grow very fast, but the docter not better than a quack, they just try and gambling with the medicine that will give to the patient. Include the syrup that u drunk also full of chemical material, the price becomes so expensive but the quality so cheap. People in here likes eat a fish, so much nutrient, its a big and good think to people learn something likes a japanese. But you can see, we are so lazy, we so far away from patience and effort. You plant this day but you also want to get the result this day, how comes??..”. 

He takes a breath for a second, pick some peanut than eat two pieces. I’m waiting for the next story that he want to tell me. He breath so deep before continue, “If I received some intruction from government, usually I put into garbage. They want us to do duty, but forget (dont care) about our right. As long as all resident can live together its enough for me.. 

I’m going to home with mixed feeling, I now that not all of what pak RT say is true, vice versa. I think I get one important point, that is we should more actually open our mind, open our eyes, and listen all of sign. Because that is one way to keep this country still exist, I know that pak RT just pessimist because they get not good experience and situation maybe. Come on all youth of the nation, dont pessimist, we can stand together, keep our holding on to build this country. I dont know i become more optimist this time. 

In the night, like I say before I go to the one of the big and familiar shoping centre, Puncak, bough some snack and ofcourse (my first plan) jeans. Not more than one hour I choose and decide to buy a dark blue jeans that have a size 30, its so long but I think the most important that the jeans enough to cover my stomatch. I’m so thirst and buy some tea and a pack of snack. When I already at home I just realize that snack its expired, I can’t believe its can be happen. I didn’h have a plan to complaint, cause I think its just wasting my times. I hope this just some a bad dream, but it can be deny this is real.. 

How comes it can be happen, I fell on a island that so far away from my big country. I becomes remember pak RT, maybe he is true. Its called by reallisctic not pessimist.

Reallistic.. Pessimist.. how are you? 

Finish, 11:28 AM

Aranda. 

 

28
Nov
07

Tuntaskan

Start:

akhir February di sore hari

Dalam banyak hal seringkali kita membiasakan diri untuk mengerjakan sesuatu tidak sampai benar-benar selesai, kelar, beres, finish atau tuntas. Entah karena apa, karena saya sendiri kadang (atau malah sering?) juga mengalami hal yang sama. Atau memang sudah menjadi semacam tradisi atau budaya, kalau ada yang lebih baru biasanya kita sering melupakan yang lama. Tolong jangan berpresepsi macam-macam terlebih dahulu dengan kalimat sebelum ini, yang saya maksudkan di sini adalah beberapa hal saja. 

Kalau anda semakin bingung, saya akan memberikan sebuah contoh yang mungkin seringkali kita alami namun kita tidak pernah menyadari, tentang apa yang ingin saya sampaikan di tulisan ini. Sebagian besar dari kita sudah menganggap berita (koran utamanya) merupakan salah satu kebutuhan pokok sekarang. Walaupun terkadang kalau ada yang mau iseng menghitung, biasanya koran (umum) lebih banyak memuat artikel yang berisi suatu ‘kabar duka’ dibandingkan ‘kabar gembira’. Namun pernahkah kita menyadari, bahwa biasanya tema-tema yang menjadi headline news tidak pernah diketahui end-ing nya, alias tidak pernah tuntas. Ambil saja 2 bulan terakhir misalnya, bagi yang penikmat berita pasti masih teringat begitu jelas apa peristiwa penting yang dialami bangsa ini. Seingat memori saya, di akhir tahun 2006 kita disuguhi berita tenggelamnya kapal laut, kemudian disusul berita menghilangnya pesawat adam air, lalu banjir bandang di jakarta, kemudian yang lagi ramai sekarang naiknya harga beras, sedangkan yang paling hot news sekarang ini tentang korupsi (lagi) di lingkungan pejabat yang kali ini melibatkan seorang tokoh mentri yang merupakan putra asli daerah yang kini sedang saya tempati.  

Apa mungkin kecepatan kita menangani suatu masalah jauh lebih lambat dari kecepatan datangnya masalah itu sendiri? Sekarang coba apa ada yang bisa memberikan jawaban kepada saya, atau setidaknya tunjukkan koran atau televisi apa yang bisa memberi jawaban? Sudah ditemukan semua korban kapal Tristar tenggelam? Sudah ketemukah posisi pesawat Adam Air sesungguhnya dimana dan kenapa? Bagaimana solusi nyata yang bisa dilakukan atas banjir yang seolah menjadi tradisi di Jakarta, baik yang siklus tahunan, lima tahunan, atau berapa tahun pun? Apakah Impor beras menjadi jawaban dalam mengatasi mahalnya harga beras di negara yang sebagian besar penduduknya di sektor pertanian? Padahal sementara petani kita mengeluhkan harga gabah yang semakin turun? Belum lagi berita-berita yang sebenernya layak dijadikan headline, semacam kejadian demam berdarah yang sempat mewabah, tentang PP no 37, tentang bencana kereta api, tentang kabar PSSI atau KONI, serta berbagai berita lainnya yang (juga) tidak pernah ada solusinya? 

Dan sekarang berita tersebut semua menjadi barang ghaib yang tidak bisa terlihat oleh mata kita, padahal sebenernya itu ada bahkan sangat dekat. Kalau mau lebih ekstrim lagi, biasanya kita akan mengingat kejadian itu lagi (hanya) kalau ada peristiwa lagi yang mirip atau sejenis terulang di masa yang akan datang, biasanya dengan menghubung-hubungkan kejadian di masa lampau, lalu disusul analisa dari berbagai pihak yang tanpa solusi atau dihubungkan dengan sesuatu yang klenik (seperti akrab di bangsa ini) sehingga seolah memang persoalan tersebut tidak pernah bisa dipecahkan, dan akhirnya sudah bisa tertebak, berita-berita tersebut akan lenyap tanpa ada jalan keluar.  

Hari ini, ketika hujan di luar hujan turun dengan begitu derasnya, tiba-tiba saya tergelitik untuk memikirkan hal tersebut. Setidaknya berdasarkan apa yang saya alami selama ini, dilingkungan yang seringkali saya temui, ada banyak permasalahan yang diselesaikan tidak secara tuntas. Tidak tau alasan apa yang mendasari, namun seringkali saya merasakan seolah-olah mereka seringkali berkata “Ah.. itu kan bisa diteruskan besok..”, atau “Itu mah gampang, ntar aja juga pasti kelar..”, atau yang lebih pesimis, “Ya mau gimana lagi? Permasalahan ini memang seperti lingkaran setan, tidak tau harus dimulai dari mana..”. Namun itu masih sedikit ‘mendingan’ dibanding yang lebih ‘hebatnya’ lagi, yang malah kita seolah-olah tidak pernah mengalami dan menyadari tentang banyaknya persoalan yang sebenarnya menunggu untuk diselesaikan. Banyak yang merasa semua baik-baik saja, padahal saya merasa ada yang tidak seharusnya disana.  

Permasalahannya bukan karena kita tidak bisa atau mampu menyelesaikan, namun kita memang tidak mau menyelesaikannya. Dan itu dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk ‘mengentengkan’ permasalahan dan menunda pekerjaan, atau juga dalam bentuk ‘menganggap’ selesai sesuatu yang sebenernya belum selesai. Hal seperti itu hanyalah sebuah bom waktu, yang suatu saat pasti akan meledak. Tinggal menunggu saja ada sesuatu yang men-trigger. 

Itu di dalam lingkungan pekerjaan, dalam skala yang lebih kecil, dalam hubungan persahabatan, teman, atau pacaran misalnya. Seringkali sebuah pasangan berantem hebat bahkan berpisah hanya karena masalah-masalah kecil, tetapi (sayangnya) ditambahkan dengan yang terakumulasi dari permasalahan terdahulu yang belum terselesaikan dengan tuntas. Sehingga yang terjadi malah merusak suatu hubungan yang sudah terjalin. Maka dari itu alangkah baiknya kita mulai membiasakan menyelesaikan suatu problem apapun itu dengan tuntas, jangan setengah-setengah. Seperti iklan jaman dahulu tentang masalah kewanitaan yang sampai sekarang masih saya ingat,  “Sampai tuntas.. tas.. taaaaas..”. 

Tiba-tiba kok perut saya menjadi sakit, sepertinya saya harus ke WC. Mungkin tadi padi saya setor belum tuntas di kamar mandi.

 Finishing..About one hour later@ my Lovely Room