Halaman Arsip 3

25
Nov
07

Pemerintahan Formalin

Start: Sunday, 29 July 200703:56 PM    

Kemaren pagi menjelang siang, setelah ’menyulap’ gudang menjadi ‘ruang santai’ di kantor, perut sudah tak tahan lagi untuk meminta jatah makan siang. Sebungkus nasi Padang dengan lauk ikan, nasi dilumuri dengan sambal yang sangat frontal di atasnya sudah siap di atas meja. Entah juga kok tumben-tumbennya makanan datang sangat awal dibanding biasanya, mungkin OB nya sedang lagi mode ON. Setelah mencuci tangan, mengambil segelas air teh panas yang sudah dingin, posisi memilih di depan televisi. Remote dipencet, entah saluran apa, yang jelas tangan berhenti memencet remot setelah menemukan acara siaran berita. Sambil meninggikan volume televisi, nasi bungkus juga dibuka, warna merah kecoklatan kuah santan, bercampur warna hijau cabai yang tak beraturan tak mengendurkan nafsu makan.  

Pembaca berita di televisi itu tampak sangat feminim, dalam hati sering berkata begitu banyak wanita cantik di negeri ini, termikasih Tuhan atas anugerah ini. Berita siang itu sebenernya masih itu-itu saja, hampir sama dengan koran kompas yang sudah terbaca begitu datang tadi. Tentang kampanye calon gubernur di ibukota, tentang (entah) isu presiden yang mempunyai anak dan istri sebelum dengan yang sekarang, berita-berita tentang kekeringan di pulau sana, dan banjir serta gelombang tinggi di pulau yang lain, tentang isu global warming di mana-mana dan sebagainya. Tapi ada satu berita yang sangat menarik perhatian walaupun sebenernya biasa saja, tentang formalin. Sekali lagi tema makanan yang mengandung formalin mulai menduduki hot topik minggu ini. Setelah beberapa waktu yang lalu (dan saya yakin masih sangat dekat waktunya), tahu dan bakso yang dituduh tersangka sebagai makanan yang mengandung formalin, kali ini ‘terdakwa’ nya adalah permen impor Cina.  

Sejujurnya saya orang yang tidak terlalu memperhatikan metode dan bahan-bahan apa yang saya makan, hanya karena saya sebagai seorang Islam, beberapa makanan memang tidak diijinkan (secara sengaja) masuk ke dalam perut ini. Mengapa saya sebut secara sengaja, karena tidak ada yang bisa menjamin apa yang ada dalam perut ini adalah makanan yang sudah lulus sensor (menurut keyakinan agama saya). Karena begitu banyak hal yang bisa menyebabkan makanan bisa tiba-tiba tidak masuk kriteria lulus sensor. Namun sekarang saya tidak akan membahas lebih lanjut tentang kriteria2 tersebut, kembali ke masalah formalin dalam makanan. Bukan sok-sok menggurui dan meremehkan ‘tukang pengawas’ makanan dan obat di negeri ini, tapi ya kok rasanya kebangeten Dalam tayangan televisi setidaknya empat ‘brand’ permen yang diimpor dari negeri tirai bambu tersebut mengandung formalin, dan yang menyebalkan (sekaligus menyedihkan) adalah salah satunya ternyata permen favorit saya, white rabbit. Entah sudah berapa butir yang masuk ke dalam perut, permen yang bungkus plastik dalamnya bisa dimakan, yang aroma susunya sangat menyengat namun tak memuakkan, yang tingkat kelunakannya pas dengan kondisi gigi saya yang memang awut-awutan seperti kehidupan negara ini. Ribuan pastinya, itulah jumlah minimal permen yang bungkusnya bergambar mirip dengan majalah Playboy. 

Dulu ketika isu bakso dan tahu yang mengandung formalin, juga berbagai bahan kimia yang tidak layak masuk ke dalam perut manusia, seperti borax, hampir setiap hari berita tentang sidak di Supermarket dan Mall, pemeriksaan hampir setiap hari, razia di pasar tradisional dan sebagainya. Namun indikasi pemerintah selalu reaktif dan terkesan panik jelas-jelas nampak dalam hampir semua kasus yang ada di negeri ini. Dan biasanya penyelesaian ini akan ditutup dengan ‘kasus’ lain yang lebih menarik dan segar, walaupun sesungguhnya itu juga peristiwa basi yang sudah seringkali didengar di berita yang sudah lalu. Sayangnya kita sudah sangat terbiasa dan memaklumi, bahkan terkadang ikut terjebak ke dalam tingkah pemikiran seperti di atas. Sehingga bisa dikatakan tidak ada satu pun kasus yang terselesaikan dengan tuntas. Begitu mudahnya panik, berpikir dengan sangat-sangat pendek dan pintas dalam menyelesaikan masalah. Kita lebih suka ‘penyelesaian sementara’ untuk kemudian terlupa, dibanding dengan memikirkan rencana jangka panjang yang lebih matang sehingga tidak ditemukan lagi masalah yang sama di masa yang akan datang. Sekarang lagi ramai lagi tema formalin, sehingga kita terlupa isu tentang kaki gajah, penyakit misterius di Magelang yang sudah menewaskan puluhan orang, juga isu tentang flu burung, dan berbagai masalah lain, ini baru di sisi kesehatan. Kalau kita bermain dan melihat sejenak di bidang transportasi misalnya, tentang pesawat terbang yang jatuh, hilang, kapal laut tenggelam, tentang kereta api, tentang monorel, busway dan sebagainya. Mau ditunjukin bidang politik? Bidang sosial? Budaya? Ah rasanya tidak begitu perlu.  

Jika berkenan, mohon tunjukkan kepada saya, satu saja kasus penting di negeri ini yang berakhir tuntas. Agar setidaknya sebagai generasi muda (yang beranjak tua), saya tidak terlalu pesimis dengan negeri ini dalam menghadapi masa depan. 

Saya yakin begitu banyak cendekiawan dan orang pintar di negeri ini, ratusan atau ribuan jendral kita punya, ratusan atau ribuan professor bertebaran di negeri ini, tidak sedikit juga warga kita yang kapabilitas dan kemampuannya mendapat apresiasi di seluruh dunia. Di kampus saya saja ada hampir sepuluh dosen yang begelar Doktor, itu baru satu kampus. Bayangkan ada berapa kampus di negara ini. Belum lagi yang ‘magang’ di luar negeri, entah Singapura, Jerman, Jepang, Amerika, Inggris, Australia dan berbagai penjuru dunia. Saya juga sangat yakin, bapak ibu yang terhormat yang duduk di kursi empuk pemerintahan bukan orang sembarangan.  Tapi entah mengapa, sehebat dan sesuci apapun manusianya, ketika duduk di kursi yang bernama pemerintahan, yang mejanya bernama birokrasi, yang makanan adalah undang-undang dan minumannya beraroma ‘atas nama rakyat’, seolah semuanya mengandung formalin di dalamnya. Sehingga kanker menjangkiti mereka, akibatnya mandul pola pikirannya, mati rasa nurani dan jiwa kemanusiannya, dan berkembang virus kebodohannya, dan akhirnya semua hanya bisa melempem..  

Finish 04:47 PM

aranda  

11
Sep
07

Selamat Datang

Bismillah.

Berharap blog ini bisa tetap survive dari hadangan rasa malas.